Catatan Harian #PhDJomblo (10): Brisbane, 5 Bulan Pertama

Tak terasa, sudah 5 bulan pertama saya lewati. Tentu jalan masih panjang dan berliku. Ini belum apa-apa, lha wong Dokumen Konfirmasi saja belum bikin dan pertanyaan riset masih tentatif. Tapi sejenak saya melepas lelah sedikit dulu dengan menulis sedikit ‘curhat’ tentang apa yang saya alami selama 5 bulan pertama.

Syahdan, ketika pertama kali berjumpa dengan Bapak Supervisor, beliau sudah mengingatkan, “The most important point about doing PhD is that you love what you are doing in the next 3-4 years”. Yang paling penting dalam PhD, menurut beliau, bukan seberapa ‘menguasai’ kamu dengan topiknya, tapi seberapa passionate dan seberapa ‘cinta’ kamu sama apa yang kamu kerjakan. Ini penting, karena kita akan mengulik hal yang sama, seringkali dengan mengesampingkan banyak hal lain, selama 3-4 tahun. Yah, meskipun istilah “cinta” ini rada membingungkan bagi #PhDJomblo yang belum berpengalaman seperti saya :p

Mungkin di post sebelumnya saya sudah menceritakan bagaimana saya sampai ke sini, setelah penantian dan kegalauan. Tapi tentu saja itu cuma awal – bahkan bisa dibilang “belum apa-apa”. Sesampainya di Brisbane tanggal 1 Januari 2018 (tanggal yang pas untuk memulai “hidup baru”) saya langsung dihadapkan pada kenyataan lain – jalannya bakal panjang dan berliku.

Bulan pertama adalah bulan yang paling berat, karena harus hidup literally “tanpa beasiswa”. Yup, beasiswa saya berasal dari Graduate School, yang oleh karenanya tergolong “beasiswa lokal”. Tidak seperti teman-teman lain yang mendapatkan beasiswa AAS/LPDP/Dikti/Kemenag yang biasanya mendapatkan Settlement Allowance sebelum berangkat, jumlah nominal Settlement Allowance untuk beasiswa kami tergolong kecil. Itupun dicairkan bersamaan dengan dana bulanan. Graduate School sudah menyampaikan dari awal kalau pencairan biasanya adalah maksimal 4 minggu setelah commencement, jadi harap untuk bawa uang cukup untuk hidup di bulan-bulan pertama.

Jadi, saya sudah ‘jebol tabungan’ (simpanan selama setahun) dan dengan uang seadanya hidup di Brisbane. Tentu saja “mahal”. Dua minggu pertama saya tinggal di temporary accommodation milik seorang mahasiswa PhD yang kebetulan sedang pulang ke Indonesia, dan dua minggu berikutnya saya pindah ke rumah yang saya tempati sekarang. Beruntung beliau baik – saya bisa membayar uang sewanya setelah beasiswa cair. Untunglah, saya tidak bisa membayangkan akan makan apa selama bulan pertama. Dua minggu kedua, karena ini sudah ‘resmi’ dengan akomodasi permanen selama setahun ke depan, mau tidak mau saya harus membayar, meski telat-telat.

Yang menyebalkan adalah – Graduate School sama sekali tidak memberi tahu kapan beasiswanya akan cair. Belakangan saya baru tahu kalau beasiswanya cair di tanggal 1 Februari bersamaan dengan penerima beasiswa lain. Selepas itu, alhamdulillah pencairan dananya lancar bahkan jika Rabu-nya adalah hari libur sekalipun.

Nah, selepas datang, apa yang saya lakukan? Saya sedikit “mengulang’ prosedur standard yang saya lakukan dulu ketika sampai Sheffield: buka rekening tabungan, beli kartut telepon, dan jalan-jalan untuk familiar dengan kota ini. Syukurlah, di Brisbane, warga Indonesia berkali-kali lipat jumlahnya dibandng mahasiswa Indonesia di Sheffield, jadi saya tidak merasa susah beradaptasi. Yang lebih susah malah ‘mengenal’ warga Indonesia lain karena saya tidak masuk dalam kategori penerima beasiswa manapun! hahaha.

Oh ya, sebelumnya saya perlu mengutarakan dulu apa yang mesti saya lakukan ketika PhD. Master berbeda dengan PhD dalam banyak hal. Jika di program Master semua hal terstruktur dan kita tinggal mengikuti ‘struktur’ di Panduan Akademik itu (pengalaman saya dulu tidak jauh-jauh dari Membaca di Perpustakaan, Hadir di Kelas, Ikut Seminar, dan Mengerjakan Essay). Di jenjang PhD kita harus mengajari diri kita sendiri. Tidak ada reading list, kita yang menciptakan reading list kita sendiri. Yang penting ketika ketemu supervisor kita sudah siap dengan Draft kita sendiri. Untunglah, ada fasilitas. Kalau ketika Master saya banyak hidup di perpustakaan, sekarang syukurlah ada ruangan sendiri. Kita tinggal “menimbun” buku dan makanan ringan disana, lalu hidup dalam kegalauan kita sendiri setiap hari (ini cuma buat #PhDJomblo sepertinya, hehehe).

Jadi, berbeda dengan Master atau Sarjana, PhD bisa dibilang adalah perjalanan ‘individual’. Kelas hanya diikuti kalau dirasa perlu oleh supervisor. Selebihnya adalah mengerjakan proyek riset kita sendiri. Mungkin agak berbeda dengan PhD di Amerika yang diawali dengan 2 tahun pertama kuliah Master yang banyak belajar Metodologi. Untungnya saya sudah mengikuti kelas itu ketika Master dulu, jadi tidak banyak adaptasi lagi.

Strukturnya bisa dibilang sederhana, tapi kompleks (paradoks yak!). Graduate School sudah mengatur kita untuk punya 6 milestone: Statement-of-Intent (bisa dibilang pra-Konfrimasi), sekitar 10-11 bulan sebelum Konfirmasi resmi. Disana kita presentasi Proposal penelitian kita yang baru, dengan ada 3 orang Reader atau pembaca Tesis, yang terdiri dari 2 orang Academic Reader dan 1 orang PhD Reader. Selesai presentasi, kita meng-address beberapa masukan dari Readers dan satu bulan kemudian rapat tertutup untuk sidang Konfirmasi. Kalau sukses (semoga!) kita akan resmi menjadi Kandidat PhD. Setelah setahun, ada Mid-Candidature dimana kita akan menyampaikan temuan lapangan. Setelah itu, di akhir tahun ketiga, kita akan melakukan Thesis Review, mendiskusikan Draft Pertama Tesis PhD kita sebelum kemudian di-submit. Tahun ini, ada satu Milestone tambahan, yaitu Viva, atau sidang tertutup! Kita baru akan dinyatakan resmi jadi PhD kalau sudah menempuh proses ini.

Jadi, ini PhD adalah bekerja bersama supervisor sebetulnya, supaya Draft yang kita hasilkan nanti layak baca. Anyway,  saya baru bertemu dengan pak Supervisor di bulan kedua, selepas seminggu sebelumnya ketemu dengan supervisor pertama. Saya awalnya mengira hanya ada 1 pembimbing, sebelum kemudian melihat nama supervisor kedua di profil akademik saya di kampus, yang memilihkan beliau kepada saya. Keduanya kombinasi yang luar biasa. Sama-sama Theorist dan bisa mengarahkan pikiran saya yang liar ini. Supervisor pertama lulusan Cornell, lama menjadi Kepala Departemen HI di ANU, dan ternyata Bapak beliau lahir di Bandung (ini ndak sengaja ketahuan ketika bimbingan! haha). Supervisor kedua mantan Diplomat Irlandia dan lulusan ANU.

Omong-omong, saya harus bilang juga kalau di sini ada 3 kategori staf/mahasiswa: British/American, Mahasiswa Internasional (seperti saya), dan lulusan ANU! Banyak staf akademik disini, termasuk kedua supervisor saya, yang mengajar di ANU dan pindah kesini setelah tahun 2010.

Tapi terlepas dari itu semuanya, keduanya amazing. Di awal-awal semacam ini, bimbingan biasanya dilakukan 2 pekan sekali. Sepekan pertama saya menulis 1000-2000 kata, dan pekan berikutnya adalah meeting. Jadi, aktivitas saya cuma ada 2: seminggu pertama menulis, seminggu kedua membaca. Simpel? Tentu saja tidak. Tuntutan PhD mengharuskan saya untuk membaca ulang semua perspektif yang ada di studi HI dan mereformulasikannya – kalau tidak, saya tidak akan bisa membangun argumen/teori baru di topik yang saya kerjakan.

Supervisor pertama punya tipikal yang cukup khas: dia mengarahkan jalan pikiran saya dengan mendebat argumen-argumen yang saya. Bimbingan biasanya berlangsung 45-60 menit (yang belakangan saya tahu kalau itu cukup generous karena yang lain biasanya tidak selama itu). Isinya adalah memperdebatkan apa yang saya tulis dan saya kirim satu pekan sebelumnya. Begitu terus. Belum ada Research Question. Belum ada Argumen.

Lho, bukankah sudah ada proposal riset? Well, ada satu kata pepatah yang saya dengar ketika Master dulu: Our first draft is basically rubbish – Draft pertama bisa dibilang adalah “sampah”. Bukan berarti ini proposal tidak penting, tapi kegunaannya, sejauh pengalaman saya, cuma untuk meyakinkan supervisor kalau saya memang pantas menjadi muridnya, dan cukup untuk memberi tahu supervisor tentang apa yang jadi minat saya. Jadi, proposal itu cuma dibahas di pertemuan pertama, selama 30 menit pertama. Selepas itu? Ya kita jalan sesuai dengan track yang disediakan oleh supervisor.

Tapi memang ini sudah diantisipasi supervisor, karena dia memang dari awal sudah bilang kalau 6 bulan pertama PhD adalah fase Blue Sky . Jadi, ini sebetulnya kesempatan saya juga untuk mengeksplor apa yang saya ingin cari tahu ke depan – tentu dengan bimbingan.

Tapi tentu saja PhD bukan hanya soal bimbingan. Ini juga soal mengintegrasikan kehidupan saya dengan kehidupan akademik di School. Saya bersyukur Queensland tidak berbeda jauh tradisi akademiknya dengan Sheffield. UQ tidak punya preferensi tertentu dalam soal teori atau metodologi – tidak seperti, misalnya, Murdoch yang terkenal kritis atau ANU yang sekarang mulai condong behavioralis. Di sini, seperti Sheffield juga, kita bisa ketemu dengan orang dengan berbagai macam perspektif. Baik yang studi HI, Politik, atau Kebijakan Publik. Kedua supervisor saya Konstruktivis dan akrab dengan English School. Pak Dekan (yang sekarang diangkat jadi Wakil Rektor) sudah sejak lama jadi proponen English School. Tapi Head of School penganut Mazhab Frankfurt. Ada Heloise Weber yang sangat post-kolonial, Martin Weber yang juga menganut Mazhab Frankfurt, David Duriesmith yang awal saya datang sudah ngajak ngopi (ternyata beliau pernah riset Aceh), lalu Direktur Pascasarjana yang Marxis tulen. Yang behavioralis juga ada – macam Frank Mols yang mengembangkan Psikologi Politik bersama istrinya Yolanda Jetten (di School of Psychology). Belum lagi yang teorinya aneh-aneh: Emma Hutchison mengembangkan keterkaitan HI dan Psikologi, dan beberapa akademisi muda yang meneliti Poskolonialitas Australia macam Alissa Macoun, Liz Strakosch, atau Morgan Brigg yang banyak riset tentang Indonesia.

Pluralitas teoretis ini membuat Seminar-Seminar Departemen menjadi seru. Eh, bukan hanya Seminar yang menghadirkan banyak orang dengan ragam perspektif berbeda, tetapi juga presentasi Statement of Intent! Pertama kali saya menyaksikan Presentasi SoI, yang memaparkan paper adalah Phillip, rekan mahasiswa asal Nigeria yang kebetulan dibimbing oleh supervisor kedua. Meskipun risetnya adalah soal Humanitarianisme, pertanyaan yang muncul sangat beragam – dari perspektif Gender, Pembangunan, hingga Konflik. Cukup mendebarkan sebetulnya, tapi juga dinamis.

Selain itu, tentu saja – ada banyak seminar yang menarik dari berbagai perspektif. Hari ini, misalnya, ada seminar dari Peter Newell, mantan co-Editor European Journal of International Relations yang memaparkan risetnya soal Global Green Politics. Bulan lalu ada Louis Pauly, mantan Editor International Organization yang juga ahli Politik Keuangan Global (dia mantan Bankir Kanada, omong-omong). Bulan depan bakal ada Sophie Harman dari Queens Mary, co-editor Review of International Studies yang bakal presentasi soal Film dan Politik Visual (dia ahli Budaya Pop dalam HI). Dan banyak lain peneliti dari berbagai jenjang.

Plus bukan hanya dari HI. Minggu lalu, ada presentasi bagus di School of Historical and Philosophical Inquiry dari Kirsten Walsh, soal Newton. Meskipun saya bukan seorang mahasiswa Filsafat – apalagi dibesarkan dalam tradisi Filsafat Kontinental dan bukan analitik, Seminarnya cukup menarik diikuti. Plus Seminar bulanan dari IASH – Pusat Studi Interdisipliner yang menghadirkan semua kajian Sosial-Humaniora. Pak Supervisor kebetulan juga Fellow disana.

Seminar, sayangnya, berlangsung setiap Jumat siang, yang artinya saya harus kejar-kejaran dulu dengan Jumatan sesi pertama untuk hadir di Seminar. Worth it, sih, meskipun harus segera keluar setelah selesai Shalat untuk mengejar Seminar.

Bulan lalu, saya berkesempatan untuk melakukan ‘debut’ presentasi di Symposium Riset Indonesia yang dilaksanakan oleh UQ bekerjasama dengan LIPI. Cukup menarik, karena jadi tahu riset-riset apa yang sedang dilakukan oleh teman-teman PhD Indonesia di sini.

Yah, ini baru lima bulan pertama. Masih ada lima bulan sesudahnya hingga saya bisa layak menjadi Dr. Umar (halah!). Tapi ada satu hal yang jadi catatan saya disini: PhD bukan sekadar gelar. Ia juga adalah pengalaman dan, yang terpenting, pembelajaran untuk menjadi Scholar. Artinya lagi, PhD cuma awal dari perjalanan scholarly saya bertahun-tahun ke depan. Ini belum apa-apa. Apa yang akan saya tulis dan hasilkan setelah saya selesai PhD (jika lulus dengan baik, dan semoga!) yang akan menentukan masa depan saya. Wajar jika supervisor pernah bilang, “Your PhD Thesis is a First Draft of Your First Book…” Dan First Draft, tentu saja, bukan apa-apa!

St Lucia, 27.4.2018.

Film Screening
FIlm Screening Disaster Capitalism – Salah satu ‘refreshing’ selama kuliah disini

 

Symposium Indonesia
Simposium Riset Indonesia di UQ – Awal April 2018
Advertisements

Haul Guru Sekumpul: Sebuah Catatan Personal

Beberapa hari ini, kawasan Sekumpul Martapura dipadati oleh para peziarah dan jamaah yang akan mengikuti haul Guru Sekumpul, ‘Alimul ‘Allamah KH Zaini Abdul Ghani, yang juga dikenal sebagai Guru Sekumpul atau Guru Ijai (sebagai kami memanggil beliau). Beliau memang ulama kharismatik. Jamaah pengajian beliau dulu selalu dipadati jamaah, dan banyak murid beliau yang kemudian juga menjadi ulama di Kalimantan Selatan. Konon, di tahun 1990an, beliau pernah menjadi Mustasyar PBNU di masa kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga menghormati beliau.

Saya tentu tidak ikut melaksanakan haul. Alasan pertama adalah jauh – lha gimana, saya berada di Brisbane sini, terpaut Laut Arafuru dan Samudera Pasifik dari Sekumpul Martapura. Alasan kedua adalah teologis – sebagai warga Muhammadiyah, tentu saya tidak biasa melakukan haul. Well, ini cukup klasik dan sebaiknya saya tidak usah ceritakan disini (karena berdasarkan pengalaman, perdebatannya bisa tidak berakhir sampai satu hari satu malam, hahaha). Walaupun orang-orang Muhammadiyah (“Kaum Muda”, kalau dalam sejarah Alabio) tidak mahaul, tetap saja jamaah berdatangan ke Sekumpul untuk haul dan ziarah.  Continue reading “Haul Guru Sekumpul: Sebuah Catatan Personal”

Catatan harian #PhDJomblo (9): Mazhab

Syahdan, dalam studi Hubungan Internasional, Mazhab Konstruktivisme Amerika Serikat tahun 1990an berkembang di dua titik utama: Cornell dan Minnesota. Ada dua orang Profesor masyhur nan terkenal disini, yang pada awalnya sebenarnya bukan Konstruktivis: Peter Katzenstein di Cornell, Raymond ‘Bud’ Duvall di Minnesota. Keduanya lahir dalam tradisi behavioralis tahun 1960an (sangat khas Amerika bukan?) tetapi mendidik mahasiswa dengan tradisi teoretis yang sangat beragam. Keduanya memang dikenal sebagai Profesor kawakan – Katzenstein mengedit International Organization, jurnal nomor 1 di Amerika (dan dunia, sampai saat ini), sementara Bud Duvall mengelola Departemen Ilmu Politik di Minnesotta.

Walaupun ada banyak penulis lain, nama keduanya lekat sebagai generasi pertama pemikir Konstruktivis dalam studi HI. Tapi di luar karya-karya mereka, yang ‘eksepsional’ dari dua Profesor ini adalah murid-muridnya. Mereka memang dikenal sebagai mentor yang luar biasa (well, saya cuma mendengar ini dari salah satu supervisor saya, yang notabene adalah muridnya Katzenstein, hehehe). Punya perspektif yang khas, tapi konon juga punya kepedulian untuk mengasah dan mengembangkan potensi intelektual muridnya. Inilah kemampuan yang susah didapat oleh peneliti dan ilmuwan muda yang masih ‘hijau’ dan kadang berapi-api.  Continue reading “Catatan harian #PhDJomblo (9): Mazhab”

Catatan Harian #PhDJomblo (8): Distraksi-Distraksi Positif

Kemarin, Direktur Pascasarjana mengirim satu email yang berisi “enam kebiasaan akademik positif menjadi penulis produktif”. Ternyata itu dikirim ke dia oleh Bapak Supervisor, hehehe. Keduanya memang terkenal produktif dan prolifik. Nah, singkat kata, kok ada beberapa poin yang sepertinya juga relate dengan pengalaman saya menulis, dan mungkin perlu juga dikupas disini.

Salah satu poin dari ‘enam kebiasaan akademik’ tersebut adalah “menulis di luar jadwal” atau, salah satu alternatifnya, “menulis bebas” (freewriting). Jadi, saran si penulis, kalau sedang menulis besar (buku, misalnya, atau riset PhD), anda pasti akan menemui deadline yang menggunung. Apalagi anda #PhDJomblo seperti saya, pasti akan ketambahan satu hal: sendiri. Nah, kadang-kadang hal tersebut stressful, bikin frustasi, atau kalau nggak ya bikin galau. Jadi, anda perlu rehat sesekali… tapi awas, jangan sampai kehilangan momentum buat nulis! Nah, disini, menulis bebas secara lebih rileks akan menjadi satu alternatif solusi. Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (8): Distraksi-Distraksi Positif”

Catatan Harian #PhDJomblo (7): Adaptasi Sosial di Luar Negeri

Saya harus bikin pengakuan (halah, ngaku-ngaku): salah satu “tantangan” terbesar saya ketika datang ke Brisbane adalah beradaptasi secara sosial. Ini bukannya beradaptasi dengan masyarakat Australia secara umum (yang pada dasarnya sama saja dengan masyarakat Inggris, walau lebih santai). Justru, adaptasi saya adalah dengan lingkungan masyarakat Indonesia di sini. Aneh, memang. Justru bertolak-belakang ketika saya pertama kali datang ke Inggris 3 tahun silam.

Lho, kok bisa? Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (7): Adaptasi Sosial di Luar Negeri”

Catatan Harian #PhDJomblo (6): Islam Berkemajuan ala Al-Tahir Ibn Ashur

Kemarin (dan sepertinya dalam beberapa bulan ke depan), saya membaca kitab klasik dari Syaikh Al-Tahir Ibn Ashur yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Treatises on al Maqasid al-Shari’ah. Bukunya agak tebal, dan dimensi fiqh-nya sangat terasa. Maklum, Ibn Ashur adalah seorang ulama Fiqh di awal abad ke-20. Beliau berasal dari Tunisia dan sempat berinteraksi dan, secara tidak langsung, menjadi “murid” dari Muhammad ‘Abduh, Syaikhul Azhar kenamaan itu.

Nama Ibn Ashur memang tidak begitu terkenal di Indonesia – mungkin karena pendekatan fiqh beliau yang sangat jelas coraknya sebagai fuqaha Mazhab Maliki. Plus, bisa jadi, karena gagasan-gagasan pembaharuan keagamaan yang hadir di Indonesia ditransmisikan melalui Syaikh Rashid Rida’ melalui Tafsir Al-Manarnya, dan tidak banyak menghadirkan Ibn Ashur dan pemikiran-pemikiran keagamaanya. Belakangan, saya mengenal Ibn Ashur ketika membaca buku Muhammad Yasir ‘Audah (ofisialnya adalah Jasser Auda hehehe) tentang Maqasid Al-Shariah, yang sedikit banyaknya merujuk pada kajian luar biasa Ibn Ashur tentang Maqasid (selain, tentu saja, Imam Asy-Syathibi yang sudah terlebih dulu menulis tentang Maqasid Al-Shariah). Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (6): Islam Berkemajuan ala Al-Tahir Ibn Ashur”

Ahmad Rizky Mardhatilah Umar: Tarbiyyah yang Dikembangkan PKS Sudah Mentok

Wawancara di Indoprogress, 19 Desember 2014. Untuk versi yang ‘asli’, silakan rujuk ke https://indoprogress.com/2014/12/ahmad-rizky-mardhatilah-umar-tarbiyyah-yang-dikembangkan-pks-sudah-mentok/

Silakan dinikmati, sambil ngopi atau ngeteh saja ya, jadi tidak serius-serius amat! Hehehe.

 

MEMBICARAKAN Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tanpa menyebut keberadaan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), adalah abai sejarah. KAMMI, yang didirikan di Malang pada 29 Maret 1998 ini, merupakan jantungnya PKS. KAMMI adalah embrio PKS dan sekaligus wadah pencetak kader-kader PKS.

Dari hubungan seperti itu, tak terhindarkan anggapan bahwa garis politik dan ideologi PKS dengan sendirinya merupakan garis politiknya KAMMI. Bagaimana PKS memandang hubungan Islam dan Negara, terefleksi dalam pandangan KAMMI juga. Demikian pula, ketika KAMMI melakukan aksi-aksi politik yang konkret, hal itu dibaca sebagai bagian dari proyek politik PKS. Ketika KAMMI menolak kebijakan pemerintah yang memangkas subsidi BBM, maka hampir dipastikan itu merupakan turunan dari kebijakan PKS. Independensi gerakan adalah barang langka buat KAMMI.

Tetapi, pandangan umum yang sudah dianggap sebagai kebenaran ini, tidak sepenuhnya benar. Sebuah penelusuran yang lebih detil menunjukkan bahwa KAMMI bukanlah sebuah organisasi yang monolitik. Walaupun terbilang kecil, dalam tubuh KAMMI kini muncul sebuah gerakan pembaruan yang menyebut dirinya KAMMI Kultural, yang mencoba membawa pesan-pesan yang berbeda dengan anggapan umum selama ini terhadap KAMMI: tentang independensi KAMMI dari PKS, tentang kebebasan akademik, dan soal pluralisme dan toleransi. Untuk mengetahui perkembangan menarik ini, Windu W. JusufRedaktur IndoPROGRESS, berbincang-bincang dengan Ahmad Rizky Mardhatilah Umaraktivis KAMMI Kultural dan Tia Pamungkaspengajar di jurusan Sosiologi Universitas Gadjah Mada dan peneliti gerakan Tarbiyyah. Berikut petikannya: Continue reading “Ahmad Rizky Mardhatilah Umar: Tarbiyyah yang Dikembangkan PKS Sudah Mentok”

Catatan Harian #PhDJomblo (5): Fase “Langit Biru”

Alhamdulillah, sudah tepat dua bulan saya berada di Univesity of Queensland. Sudah beberapa gajian saya lalui. Sudah beberapa kali juga bertemu supervisor, dan sudah beberapa Workshop juga dilalui bersama Direktur Pascasarjana dan mahasiswa-mahasiswa Doktoral yang lain. Kini tinggal menuntaskan satu milestone atau capaian yang mesti saya tuntaskan di sini: Confirmation Review.

Masa2 ini, menurut pak Supervisor, adalah masa-masa “blue sky”, dimana kita menyusun “awan” kita sendiri di langit yang biru. Oh ya, saya harus disclaimer dulu: sebelum sampai ke UQ (tepatnya, ketika mendaftar), kita diharuskan untuk menulis proposal penelitian, yang kita kirimkan ke Direktur Pascasarjana sebelum kemudian didistribusikan ke dosen-dosen yang tertarik dengan riset saya. Dua hari kemudian, supervisor saya membalas dan memberikan beberapa respons. Saya membalas satu bulan kemudian dan dia langsung setuju, saya akhirnya mendaftar secara formal dan lima bulan kemudian dinyatakan diterima, lengkap dengan beasiswanya.

Eh, tapi, tunggu dulu. Sudah diterima bukan berarti proposal kita bisa langsung terus. Awal Februari kemarin, saya bertemu dengan Bapak Supervisor dan beliau langsung bilang begini, “ya, saya tau kalau mahasiswa sedang menulis proposal, mereka biasanya menulis terburu-buru. Jadi, biasanya beberapa bulan pertama, mahasiswa akan berada dalam fase “langit biru”, entah mereka mungkin akan terus dengan proposa dan ide yang sudah mereka tawarkan, atau malah berubah. Jangan takut, keduanya oke kok”.  Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (5): Fase “Langit Biru””

Catatan Harian #PhDJomblo (4): Apa Iya Post-Strukturalisme mengantarkan kita pada “Masyarakat Pasca-Kebenaran”?

Salah satu pertanyaan yang merebak di era ‘post-truth’ ini adalah: apakah kita perlu menyalahkan ‘post-modernisme’ (dan dalam konteks yang sedikit lebih luas) ‘post-strukturalisme’ sebagai tersangka munculnya era ini? Baru-baru ini, dalam satu artikelnya di Jurnal Critical Studies on Security, Rhys Crilley dan Precious Chatterje-Doody dua ilmuwan dari Manchester, memberikan jawaban: tidak juga. Masalahnya adalah kita sering keliru mengidentifikasi post-strukturalisme dan post-modernisme sebagai kerangka berpikir ‘anti-kebenaran’ atau mengabsurdkan apa yang sering dianggap sebagai ‘common sense’ dalam studi sosial politik. Sebagaimana diutarakan oleh Rhys dan Precious, post-strukturalisme justru relevan untuk mengkritik rezim-rezim post-truth karena mereka ingin menciptakan rezim kebenaran baru yang, sayangnya, anti-sains dan anti-‘keberagaman’.

Lha, kok bisa? Ya bisa saja. Ini karena sebetulnya argumen-argumen “post-truth” (semacam, misalnya, “Bumi Datar” atau penolakan tentang Global Warming) juga bukan argumen post-strukturalisme. Justru, mereka mengingatkan bahwa hal-hal semacam itu terjadi dan adalah tugas dari sains dan ilmu pengetahuan untuk senantiasa berpikir kritis terhadap hal-hal semacam itu. Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (4): Apa Iya Post-Strukturalisme mengantarkan kita pada “Masyarakat Pasca-Kebenaran”?”

Catatan Harian #PhDJomblo (3): Hiking di Brisbane dan Sheffield

Syahdan, Queensland katanya terkenal dengan pantai-pantainya yang (katanya) menawan. Tapi entah mengapa, saya tetap suka hiking. Ini hobi yang mulai saya gemari ketika di Sheffield. Maklum, Sheffield bisa dibilang kota yang tidak terlalu besar (besar sih, tapi City Centre-nya kecil). Tidak sebesar City Centre Brisbane yang ramai dan banyak orang lalu-lalang. Tapi Sheffield punya sisi indah yang lain – Peak District. Nah, ini yang bikin saya, entah kenapa, jatuh hati dan susah move on dari kota ini.

Nah, apakah di Brisbane ada tempat hiking semacam Peak District bagi orang yang ndak begitu suka mendaki gunung yang terlalu tinggi kayak saya (halah) tapi ingin menikmati indahnya suasana alam? Ada beberapa spot yang ketika baru saja datang langsung saya cari. Memang tidak seindah Edensor dan Castleton di Peak District, yang bisa dinikmati bersama Yorkshire Tea sebelum naik ke Mam Tor atau Baslow Edge yang tinggi. Tapi setidaknya bisa mengobati kerinduan dengan alam (catatan: saya malah ndak banyak jalan-jalan ketika di Indonesia. hahaha).  Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (3): Hiking di Brisbane dan Sheffield”