Evolusi dan Transformasi Organisasi Mahasiswa UGM (1)

Image

Tak terasa, 22 tahun sudah Keluarga Mahasiswa UGM mewarnai kehidupan mahasiswa UGM. Sistem yang digadang-gadangkan sebagai ‘student government’ ini -dengan segenap kekurangan dan keterbatasannya- menjadi sebuah ikhtiar yang dilakukan oleh mahasiswa UGM untuk mendobrak kejumudan yang dihasilkan oleh rezim pendidikan saat itu, Beragam momentum gerakan, konflik, krisis, dan transformasi dilalui. Sampai tulisan ini dirilis, 22 tahun sudah usia lembaga mahasiswa intrakampus di UGM ini dilalui. (more…)

Advertisements

300: Bicara Teori HI dalam Film

themistoclesKETIKA film 300: The Rise of an Empire baru dirilis ke pasaran bioskop Indonesia, saya menduga film ini akan punya tipe tak jauh beda dengan pendahulunya, 300. Saya tidak salah. Ketika kemarin menonton, film ini langsung membuat saya akrab dengan logika yang dibangun dalam alur cerita.

Dua tahun lalu, ketika menjadi tutor di mata kuliah Teori Politik Internasional, saya iseng-iseng memutarkan film 300, dipadu dengan Troy, sebagai media untuk mengenalkan logika skeptisisme moral (yang sentral dalam realisme) kepada mahasiswa. Film 300 memang sangat khas realis. Dari awal film, alur cerita sudah menampilkan gaya militaris yang memang tidak percaya dengan diplomasi, persatuan global, atau basa-basi politik. Yang ada hanyalah kekuatan. (more…)

Intelektual dan Pengetahuannya

487857_495724780473086_1247586938_nHari ini, civitas Gadjah Mada ketiban sesuatu yang besar: ‘skandal’ plagiarisme yang dituduhkan pada AA, seorang dosen senior yang juga malang melintang di dunia birokrasi, hingga berujung pada pengunduran dirinya. Media sosial dan media elektronik heboh. Mengingat, skandal itu terjadi di salah satu media terkemuka di Indonesia.

Saya tidak akan cerita panjang lebar soal itu. Mengingat, saya juga bukan siapa-siapa, hanya seorang sarjana yang baru lulus dari kampus Gadjah Mada. Tapi, saya ingin mencoba sedikit mengarifi -di sela-sela istirahat rumah akibat kena ‘kutukan’ abu Gunung Kelud kemarin. (more…)

Gerakan Islam dan Gerakan Kiri

ImageDalam diskusi tentang media kiri yang digelar kawan-kawan Gerakan Literasi Indonesia tadi malam, ada yang menarik, bahwa dalam sejarahnya, perkembangan gerakan kiri di Indonesia justru bermula dari organisasi pergerakan Islam yang pertama: Sarekat Islam.

Ini bukan dongeng. Sejarah mencatat bahwa apa yang disebut dengan Partai Komunis Indonesia justru merupakan sebuah faksi “Merah” dari Sarekat Islam Cabang Semarang. Para pegiatnya adalah aktivis buruh kereta api yang dipimpin anak muda bernama Semaoen.

Memang ada orang-orang Belanda seperti Sneevliet, Bergson, dan lain-lain yang membawa Marxisme dari Hindia-Belanda, tetapi ranah gerak dan pengorganisasian aktivis Komunis Indonesia justru diartikulasikan melalui Sarekat Islam. Ini bukanlah infiltrasi atau entrism, sebab beberapa aktivis Komunis seperti Semaun justru sudah bergabung dengan SI sejak 1914 (ketika ia berumur 15 tahun), sebelum kenal Sneevliet di Semarang. (more…)

Tamjid dan Hidayat

Ini semacam peringatan bagi urang banjar yang mau jadi pemimpin tahun 2014 -entah Hubnur, Bupati, Caleg, Pambakal, atau Ketua RT sekalipun.

Dalam sejarahnya, Kesultanan Banjar punya dua raja terakhir: Tamjidillah dan Hidayatullah. Keduanya adalah putera dari Sultan Adam, raja Banjar yang terkenal dengan Undang-Undangnya. Penelitian Ita Syamtasiah Ahyat mencatat: Tamjid sebetulnya adalah putera selir. Ia bukanlah orang yang ditakdirkan jadi Raja Banjar. Pertama, karena ia bukanlah putera permaisuri (yang lazim jadi raja). Kedua, karena wasiat dari Sultan Adam sama sekali tidak menunjuk dirinya jadi raja; yang ditunjuk justru adalah cucunya, putera dari Sultan Muda Abdurrahman, yaitu Pangeran Hidayatullah.

Singkat cerita, Sultan Adam meninggal dan, sebagaimana beberapa kali terjadi, menyisakan perdebatan mengenai siapa yang seharusnya menjadi raja. (more…)

Tahrir

ImageAda sedikit cerita menarik dari jurnalis Mariz Tadros, mantan jurnalis Ahram, pada salah satu buku tebalnya tentang Ikhwanul Muslimin. Ini tentang anak-anak muda Ikhwan.

Awal Januari 2011, Mesir sedang gelisah. Satu bulan sebelumnya, rezim politik tumbang di Tunisia. Tentu saja gelora untuk melanjutkan ‘revolusi’ sedang berdebar-debar di dalam dada anak-anak muda Mesir. Aktivis politik, rata-rata dari kalangan anak muda sedang giat-giatnya menggelar rapat dan turun ke jalan, berupaya memindahkan kejadian ‘tetangga’ ke dalam rumah sendiri.

Suasana ini mungkin mirip dengan suasana menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, ketika anak-anak muda yang tak sabaran sedang harap-harap cemas ketika mendengar Jepang kalah perang. (more…)

Teori Politik Internasional (3): Negara, Otonomi, dan Moralitas

ImageAnarchy is what the state makes of it”, tulis ilmuwan Konstruktivis Alexander Wendt dalam artikelnya yang terkenal di tahun 1992. Politik internasional, selama bertahun-tahun, dikaji melalui satu sudut pandang yang khas: politik antarnegara. Hal ini tentu tidak secara kebetulan terjadi Sejak dirumuskan di Westphalia pada tahun 1648 dan studi HI mulai diperdebatkan di awal abad ke-20, ‘negara’ menjadi bahan perbincangan yang dominan.

Teori Hubungan Internasional modern memang ditandai oleh satu variabel khas: “negara” (state). Antonio Negri dan Michael Hardt (2000) mencatat bahwa modernisasi yang dibawa oleh Eropa bergantung, salah satunya, pada konsepsi tentang ‘negara-bangsa’.  Dalam struktur keilmuan HI yang sangat positivistik, mengutip Joseph Femia (2008), konsepsi negara diterima secara a priori. Sovereign states are, and will remain, the primary actors in international affairs”, tulisnya. Negara sudah bagaikan alpha dan omega dalam studi Hubungan Internasional modern.

Sehingga, teorisasi mengenai politik internasional pun takkan lepas dari perbincangan mengenai negara -sesuatu yang akan coba diurai dalam tulisan ini. (more…)

Teori Politik Internasional (2): Empat Penunggang Kuda

ImageAda baiknya memulai kajian tentang teorisasi politik internasional melalui sebuah metafora: penggambaran atau imaji tentang kondisi hari ini. Metafora tidak bertujuan untuk menambah kompleksitas dalam studi HI, melainkan hanya membantu dalam merumuskan ‘apa’ dan ‘bagaimana’ logika-logika dasar dalam politik internasional beroperasi.

Guna memahami politik internasional secara teoretik, kita memerlukan imaji, ilustrasi, atau potret mengenai kondisi objektif politik internasional. Ilustrasi tersebut dapat membawa kita pada sebuah refleksi teoretis mengenai bagaimana politik internasional digambarkan, sehingga memudahkan untuk melakukan penjabaran secara lebih teoretis dan filosofis. Mungkin, potret “empat penunggang kuda” yang diambil dari bible bisa membantu memetakan kondisi politik internasional hari ini. (more…)

Teori Politik Internasional (1): Dua Tesis Skeptisisme Moral

Mari kita mulai diskusi mengenai skeptisisme moral ini dengan membahas sebuah film tentang Yunani kuno: 300.

ImageFilm 300 berkisah tentang Leonidas, seorang raja Sparta yang menghadang puluhan ribu prajurit Persia hanya dengan 300 prajurit. Kisah ini bermula dari kedatangan rombongan “duta besar” Persia yang menawarkan penaklukkan. Leonidas yang menyambut duta besar itu menjawab dengan penolakan yang keras: sang duta besar dibunuh dan ia segera mempersiapkan perlawanan dengan memilih 300 prajurit. Ke-300 prajurit itu menghadang aneksasi Persia tersebut di “Gerbang Panas” Yunani atau Thermopylae.

Singkat kata, terjadilah pertempuran yang sengit. Leonidas bersama 300 prajuritnya melawan dengan sengit. Di Sparta, terjadi perdebatan din kalangan Senat apakah akan mengirim armada tambahan atau tidak. Perdebatan berakhir nihil. Leonidas akhirnya terkepung oleh pasukan Persia, dan terbunuh dalam pertempuran pamungkas setelah melukai Xerxes, raja Persia yang hadir dalam pertempuran. (more…)

Penulis dan Tulisannya

ImageSaya sedikit tersenyum ketika membaca komentar-komentar di tulisan saya yang terbaru. Tulisan itu esei seperti biasa, tentang anak muda Ikhwan. Tapi beberapa kawan berkomentar, “ini jadi semacam curhat dari penulisnya”.

Komentar-komentar semacam itu membuat saya tersenyum dan tergerak menulis catatan singkat ini. Bagi saya, tulisan bukanlah sesuatu yang keluar dari alam pikiran lalu menguap begitu saja di layar komputer. Atau, cuma sekadar pelampiasan hasrat. Bagi saya, menulis itu seperti berbicara dengan orang lain. Dari tulisan-lah orang akan mengenal “siapa saya” dan “seperti apa saya hidup”.

Maka dari itu, jika ada yang menyebut tulisan-tulisan saya semacam curhat, di sisi ini bisa diterima. Menulis adalah identitas. Aku adalah apa yang aku tulis. Dengan demikian, seorang penulis akan terikat dengan tulisannya secara emosional, karena apa yang ditulis oleh seorang penulis, pada hakikatnya adalah ‘penampakan’ dari si penulis itu juga. (more…)