Tariq Ramadan

Jurnal KAMMI Kultural, 23 Desember 2013
 
ImageAnda anak KAMMI dan dianggap bandel hanya gegara tidak mencoblos pilihan syuro di Pemira Kampus? Jangan patah semangat. Mungkin cerita di bawah ini bisa sedikit menghibur. 
 
Pada tahun 1954, seorang wanita -dan keluarganya- harus dihadapkan pada sebuah pilihan sulit. Beberapa tahun sebelumnya, ayahnya dibunuh dan teman-teman ayahnya harus berhadapan dengan rezim militer yang baru saja terbentuk. Insiden percobaan pembunuhan sang Jenderal Militer membuatnya tak punya pilihan lain: masuk penjara atau keluar dari Mesir. 
 
Ia kemudian memilih yang kedua.
 
Perempuan itu ialah Wafa Al-Banna, puteri tertua Hasan Al-Banna. Ayahnya adalah pemimpin besar Ikhwanul Muslimin, organisasi Islam yang pada waktu itu menjadi oposisi terkuat rezim Gamal Abdul Nasser. Tahun 1954, Nasser melakukan pembersihan setelah insiden Manshuriyyah. Ia menangkapi aktivis-aktivis Ikhwanul Muslimin.
 
Wafa segera meninggalkan Mesir. Suaminya, Said Ramadan, kebetulan punya koneksi yang cukup baik dengan jejaring Muslim di Eropa. Segeralah mereka meninggalkan Mesir. Swiss, sebuah negara kecil di Eropa yang sangat terkenal dengan penghargaan atas privasi penduduknya, menjadi pilihan utama. Jadilah mereka berlabuh di Swiss sebagai eksil.
 
Menjadi eksil di negara Barat tentu bukan sesuatu yang mudah. Kita mungkin teringat dengan Shobron Aidit, Umar Said, atau eksil-eksil Indonesia yang harus lari ke Eropa karena G30S. Mereka yang kemudian menjadi eksil mendirikan Restoran Indonesia, yang konon, menjadi tempat nongkrong terkenal bagi orang-orang Indonesia di Paris. 
 
Said menjalani masa-masa yang berat. Seperti diutarakan puteranya, Said Ramadan kemudian aktif dalam pergaulan lintas-agama. Setelah menyelesaikan disertasi di Universitas Cologne, ia mendirikan Islamic Center di Geneva, yang kemudian menjadi pusat aktivitas umat Islam di Swiss, hingga kini.
 
Tapi ini bagian paling penting: tahun 1962, lahirlah putera Said dan Wafa, Tariq. Tiga tahun sebelumnya, lahir kakaknya Hani. Tariq dan Hani lahir sebagai eksil, tetapi itu memberikan warna pada mereka. Keduanya mengenyam pendidikan dan besar di kalangan umat Islam Swiss yang di kemudian hari memberikan warna berbeda pada dirinya dengan saudara-saudaranya aktivis Ikhwanul Muslimin di Mesir.
 
Sebagai cucu dari tokoh besar Hasan Al-Banna, Tariq dan Hani tentu saja sudah diperkenalkan dengan Ikhwanul Muslimin dan pergerakan Islam. Akan tetapi, hidup sebagai eksil memberikan warna baru pada keduanya. Tariq belajar di Eropa. Ia meraih gelar Master di bidang Sastra dan Filsafat, serta PhD di bidang Studi Islam dari Universitas Jenewa. Tak tanggung-tanggung, Tariq menulis tentang Frederich Nietzsche.
 
Bagi seorang aktivis Ikhwan, pilihan mempelajari Nietzsche bisa jadi agak aneh. Nietzsche, minimal, adalah seorang agnostik. Ia mendeklarasikan dalam bukunya, “Tuhan Sudah Mati!” Tapi tidak demikian bagi Tariq muda. Tariq terpana dengan pertanyaan sederhana Nietzsche, “Apakah agamamu telah membantumu untuk menghindari pertanyaan tentang siapa dirimu? darimana kekuatan yang kamu miliki itu berasal?”
 
Di sinilah kita melihat kulminasi perjalanan intelektual Tariq. Memulai dari tradisi filsafat Nietzschean yang, pada awalnya, nihilistik, ia memahami kembali Islam. Baginya, esensi manusia harus dibebaskan dari persepsi yang sudah terlanjur established. Nietzsche mengajarinya untuk menghargai kehidupan. Dan untuk itulah maka memahami The Other,daripada terjebak dalam dunia persepsi dan doktrin, Good dan Evil harus dilampaui. Itulah makna Islam, sebagaimana dipahami oleh Tariq muda.
 
Pandangan ini dibuktikannya secara konsisten di kemudian hari. Ia banyak menjadi juru bicara umat Islam dalam dialog dengan Barat, sesuatu yang ia sebut sebagai ‘rekonsiliasi’. Inilah manifestasi filsafat Nietzschean yang secara kreatif diramu oleh Tariq Ramadan dengan pendekatan Islam yang ia yakini. Predikatnya sebagai cucu dari Hasan Al-Banna, seorang pendiri organisasi Islamis radikal, tidak menghalanginya untuk berdialog dan mendudukkan Islam dan Barat dalam satu meja. 
 
Apa yang dilakukan oleh Tariq Ramadan inilah yang banyak memberikan persepsi berbeda tentang Ikhwan di dunia Barat. Tapi ini juga punya ujung yang lain. Pandangan intelektualnya inilah yang menggiringnya pada titik yang membedakan dirinya dengan aktivis Ikhwan yang konservatif di Mesir. Baginya, Islam Politik itu tidak, dan tidak pernah akan, tunggal. Ia mengapresiasi gagasan yang berkembang dari murid-murid Hasan al-Hudaybi yang demokratis dan progresif (di antara yang notable: Abdul Mun’im Abul Futuh atau Recep Erdogan di Turki). Baginya, kebangkitan Islam hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang berpikiran terbuka.  
 
Dan satu lagi: Tariq Ramadan mendukung sekularisasi. Baginya, sekularisasi menjadi keniscayaan manakala Islam sudah menjadi sandaran etis bagi aktus politik bernegara. Problem utama umat Islam bukanlah negara Islam atau bukan. Problem utama umat adalah keterbelakangan, kebodohan, dan kegagapan dalam bermain dengan globalisasi. Dan bagi Tariq, jawabannya menjadi jelas: rekonsiliasi!
 
Bisa jadi, ada yang akan menyebut Tariq Ramadan seorang liberal. Tapi Tariq bukannya tidak paham Islam. Ia belajar banyak di Mesir ketika kembali kesana tahun 70an -ketika Sadat membebaskan banyak aktivis Ikhwan dari penjara. Tapi inilah jalan hidup Tariq. Sebagai seorang intelektual, ia beranjak melampaui sekat-sekat batas persepsi yang membedakan dirinya, Muslim, dengan The Other -Barat. Yang jelas, tanpa Tariq dan kawan-kawannya yang dianggap liberal itu, bisa jadi takkan ada orang Eropa yang mengenal Islam secara genuine dan terketuk pintu hatinya untuk memahami Islam secara lebih adil. 
 
Di sini kita bertemu dengan gagasan ‘rekonsiliasi’ Tariq yang sarat dengan anggapan ‘liberal’ atau ‘sekuler’ itu.
 
Bagi aktivis KAMMI, mungkin gagasan rekonsiliasi ini perlu direnungkan. Tidak usah jauh-jauh. Mungkin kita perlu rekonsoliasi dengan orang-orang yang dianggap futur atau bandel. Bisa jadi, merekalah Tariq Ramadan yang berkembang di tubuh gerakan. 
 
Wallahu a’lam bish shawwab.
 
Catatan: pemikiran Tariq Ramadan dapat dilihat pada beberapa wawancara dan bukunya yang cukup bagus, “Islam and the Arab Awakening” (Oxford University Press, 2012). Profilnya pernah diangkat di Jurnal IBHAR tahun 2006.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s