Komodifikasi Gerakan Mahasiswa

The first chief function of money is to supply commodities with the material for the expression of their values, or to represent their values as magnitudes of the same denomination, qualitatively equal, and quantitatively comparable” (Capital I)

Komodifikasi

ImageSejak awal mula pertumbuhannya, Kapitalisme selalu didasarkan atas proses transformasi ‘Komoditas’ menjadi ‘Uang’. Proses tersebut kemudian dikenal sebagai ‘komodifikasi’. Ada dua cara untuk melihat nilai suatu komoditas. Pertama, ‘nilai-guna’, di mana komoditas diubah menjadi uang tetapi uang itu digunakan untuk membuat komoditas lagi. Secara matematis, kita bisa membahasakannya dalam sebuah formula: C-M-C’. Kedua,‘nilai-tukar’, di mana komoditas diubah menjadi uang tetapi uang itu dipertukarkan sehingga menghasilkan lebih banyak uang. Bahasa matematikanya adalah: M-C-M’. 

Analisis sederhana tersebut menjadi pijakan awal analisis tentang ‘gerakan mahasiswa’. Di era komodifikasi, semua hal diubah menjadi komoditas untuk kemudian dijual kembali dan dijadikan alat untuk mendapatkan keuntungan (‘profit’). Ternyata, logika tersebut beroperasi dalam gerakan mahasiswa saat ini. Dalam logika komodifikasi, gerakan mahasiswa menjadi ‘C’ (Komoditas) yang hanya akan tampil ke depan jika ada ‘M’ (Money). Tujuan gerakan mahasiswa, dalam hal ini, adalah mengkapitalisasi ‘M’ untuk mendapatkan M’.

Pertanyaannya, siapakah yang punya ‘M’? Jika yang punya ‘M’ adalah partai politik, maka relasi antara Gerakan Mahasiswa (GM) dan Partai Politik adalah relasi buruh dan majikan. Bagi GM, logika yang dilaksanakan dalam program-program gerakan mahasiswa adalah logika C-M-C’ yaitu mengubah gerakan untuk menjadi uang dan selanjutnya jadi gerakan lagi. Tapi, yg sejatinya menikmati jerih-payah mahasiswa adalah partai politik, yang tentu saja mengubah operasi tersebut menjadi: M-C-M’. Partai politik menjadikan gerakan mahasiswa sebagai ‘nilai tukar’, yang dijual untuk mendapatkan keuntungan.

Contoh persamaannya adalah sebagai berikut bagi partai politik:

10 pemberitaan negatif media=1 lawan politik

Maka, untuk menjatuhkan 1 lawan politik, ia membutuhkan setidaknya nilai yang equivalen dengan 10 pemberitaan negatif di media. Di sana, tentu saja ia memerlukan gerakan mahasiswa yang punya kemampuan mobilisasi besar (dengan kata lain, kemampuan tenaga kerja/Labor) dan mudah diarahkan untuk kepentingan politik tertentu, sehingga bisa mengeluarkan tenaga yang equivalen dengan nilai 10 pemberitaan media. Yang ia lakukan tinggal ‘membeli’ gerakan itu dengan memberikan uang kepada gerakan mahasiswa.

Maka, seandainya ‘M’ yang ada pada gerakan mahasiswa itu masih diisi posisinya oleh orang lain, yang terjadi adalah gerakan mahasiswa hanya menjadi buruh yang di-outsource atau dieksploitasi oleh ‘majikan’ tersebut tanpa ia menikmatinya. Proses komodifikasi itu hanya akan berjalan lewat tiga hal: (1) ada alat produksi; (2) ada bahan mentah; dan (3) ada ‘surplus-value’ yang dihasilkan dari tenaga buruh.

‘Surplus Value’ adalah selisih dari nilai produktif yang dihasilkan oleh buruh dengan nilai yang ia keluarkan untuk bekerja. Dalam kajian perburuhan, Surplus-Value ini dihasilkan dari jam kerja buruh. Kita mungkin bisa mengubah konsepsi awal ini menjadi ‘intensitas demonstrasi’. Selama GM bekerja untuk demonstrasi, selama itu pula ia dipekerjakan oleh partai politik. Eksploitasi parpol adalah pada militansi GM dan hasil kerja yang ia ciptakan, yaitu ‘berita’. Jika ia aksi dengan militan dan dengan berita yang oke, hasilnya dapat memukul si lawan politik. Dan seorang politikus tinggal memberikan upah (wage) kepada GM atas hasil kerjanya.

Hal mengerikan yang kita dapat dari atas adalah Gerakan Mahasiswa ‘bekerja’ pada partai politik tanpa tahu realitas yang sesungguhnya. Dengan demikian, ia terasing dari masyarakat yang seharusnya ia bela. Program-program gerakan mahasiswa, dalam komodifikasi, tidak-untuk-dirinya-sendiri; Ia bekerja untuk orang lain.

Maka, wajar jika kemudian GM tak begitu ‘bernafsu’ untuk menyikapi isu-isu yang terkait dengan jati dirinya sendiri, seperti UU Pendidikan Tinggi. Bisa jadi, salah satu penjelasan mengapa isu ini tidak ‘naik’ di kalangan GM adalah kurangnya ‘support finansial’ yang membuatnya bisa turun aksi dengan heroik. Atau, kita bisa menjelaskan mengapa GM kurang suportif dengan isu-isu gerakan rakyat yang real di desa, seperti tanah dsb.

Tentu saja, tidak semua GM seperti itu. Tapi, hal-hal semacam ini sangat mungkin terjadi, diakui atau tidak, oleh GM yang banyak terlibat pada intrik politik elit di Jakarta. ‘Uang’ bisa menjadi sangat magis, memenjara kita tanpa tahu bahwa kita sedang dipenjara olehnya. Inilah yang sering disebut sebagai fethishisme.

Bagaimana GM bisa keluar dari jebakan komodifikasi semacam ini? Jika logika M-C-M’ sudah terlanjur menjangkar bagi gerakan mahasiswa, maka pilihannya bagi gerakan mahasiswa adalah merebut M. Kontrol mahasiswa atas ‘Modal’ menjadi sangat penting agar gerakan yang ia lahirkan tidak dikooptasi oleh elit-elit politik yang mengatasnamakan Senior/Alumni/Mentor. Menguasai ‘M’ berarti menolak intervensi modal apapun yang bisa membuatnya masuk pada relasi produksi politik saat ini. Dan tentu saja, artinya berani untuk mencari sumber keuangan lain yang tidak eksploitatif dan membuat GM bisa dengan bebas menentukan pilihan sikapnya sendiri.

Politik Kelas

Inilah urgensi politik kerakyatan bagi Gerakan Mahasiswa, yang berbasis pada ‘kelas’. Berpolitik pada basis kelas,dalam artian jelas kelompok sosial mana yang ia perjuangkan, akan membuat orientasi gerakan mahasiswa menjadi jelas: berjuang murni untuk kepentingan rakyat. Inilah yang membedakan konten gerakan mahasiswa yang berjuang pada basis kelas dengan gerakan mahasiswa yang demonstrasi/aksinya dibayar. Dan di era di mana kapitalisme semakin predatoris, membunuh setiap kekuatan oposisi rakyat, penjangkaran pada basis rakyat menjadi urgen.

Konsekuensi lain dari berpolitik pada basis kerakyatan adalah penguatan basis pengetahuan. Kritik terhadap kapitalisme mesti dilakukan secara terus-menerus, sekeras-kerasnya, dan secanggih-canggihnya. Aktif di Gerakan Mahasiswa berarti aktif memahami realitas sosial yang ada. Ini berarti kembali pada bacaan dan pendidikan. Tanpa bacaan, susah kita membayangkan GM bisa melepaskan diri jebakan komodifikasi. Dari sini, berarti kita memahami bahwa bergerak berarti menggabungkan tindakan dan pengetahuan, dan tidak melepaskannya secara terpisah.

Jadi, di sinilah kita memaknai independensi. ‘Independensi’ bukan mantra yang dirapalkan oleh kandidat Ketua Umum ketika ia berdebat. Ia juga bukan sesuatu yang dikoar-koarkan sebelum Kongres/Muktamar/Musyawarah Besar. Independensi berarti melepaskan diri dari logika komodifikasi gerakan dan membasiskan dirinya pada konstituen yang sah, yaitu rakyat. Atau dengan bahasa lain, bunuh diri kelas. 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s