Banjir Jakarta dan Krisis Modernitas

ImageAwal Tahun 2013 dan 2014, publik Indonesia terhenyak oleh sebuah berita: Jakarta terkena banjir. Ribuan warga ibukota mengungsi. Relawan berdatangan ke ibukota, bukan untuk ‘mencari hidup’ tetapi justru menyelamatkan warga yang kehilangan kehidupan di Jakarta akibat banjir.

Banjir Jakarta menghadirkan sebuah pertanyaan reflektif: mengapa Jakarta –yang selama ini menjadi simbol dari modernitas dan pucuk kekuasaan— tak bisa mengelak dari banjir dan harus sibuk menghadapinya?

Jakartacentrism

Proyek pembangunan di Indonesia yang dicanangkan sejak tahun 1966 telah menempatkan Jakarta sebagai pusat aktivitas manusia di Indonesia. Pembagian kekuasaan diatur melalui logika ‘pusat’ –yang berarti pusat pembangunan di Jakarta— dan ‘daerah’ –yang berarti daerah di ‘luar’ Jakarta.

Perputaran uang didominasi oleh Jakarta. Kemewahan, lifestyle, budaya pop, atau semua hal yang secara kultural kita kenal dengan ‘modernitas’ berada di Jakarta. Anak-anak muda di Indonesia akan lebih percaya diri jika ia mengidentifikasikan dirinya dengan simbol kemajuan  –yang tak lain akan merujuk ke Jakarta juga.

Dominasi ini mengimplikasikan arus ‘urbanisasi’ yang kemudian tak terperikan lagi hadir di Jakarta, menambah beban-beban sosial alih-alih memacu pertumbuhan ekonomi di daerah. Jakarta menjadi ‘rumah’ bagi para pencari kerja yang kehilangan lahan pertanian di pedesaan atau kekurangan pekerjaan di daerahnya.

Selama berpuluh-puluh tahun, modernisasi Indonesia menempatkan ‘Jakarta’ sebagai centre dan menjadikan proses modernisasi serupa di berbagai daerah harus merujuk pada model tersebut.

Sedikit menggubah istilah Samir Amin (1988), modernisasi ini melahirkan fenomena ‘Jakarta-centrism’, di mana semua aktivitas akan merujuk ke Jakarta dan mereka yang tidak merujuk ke sana akan dieksklusi secara kultural.

Sebagai contoh, proses kultural ini dapat kita lihat pada sinetron televisi yang kian hari kian mencengkeram rumah kita. Banyak sinetron (tak perlu kita sebut satu per satu), menampilkan kemewahan sebagai sesuatu yang identik dengan Jakarta, sementara mereka yang miskin dan marjinal identik dengan kaum urban yang ‘datang’ ke Jakarta dari pedesaan.

Konstruksi wacana ini menjadikan ‘Jakarta’ –atau mungkin kita sebut sebagai modernitas— menjadi sebuah narasi yang begitu hegemonik dalam industri pertelevisian di Indonesia. Pada industri berita, misalnya, tampilan-tampilan Jakarta-sentris itu hadir dengan tampilan konflik elit di tingkat yang didramatisir, mengidentikkan aktivitas politik hanya sebagai aktivitas elit di Jakarta.

Sehingga, tidak perlu terkejut. Ketika warga Yogyakarta memperjuangkan keistimewaan daerahnya dengan menempatkan Sultan sebagai ‘raja’ yang tak perlu dipilih melalui demokrasi elektoral, banyak politisi di Senayan yang mencibir dan menyatakan bahwa proses itu tidak demokratis

Wacana-wacana politik seperti ‘demokrasi’, ‘pembangunan’, atau bahkan ‘kemiskinan’ telah diisi oleh format pemaknaan yang sangat modernistik dan sangat bercorak ‘Jakarta’.

Akibatnya, demokrasi dimaknai begitu sempit hanya sekadar ritus ‘Pemilu’. Pembangunan dimaknai dengan model-model tertentu yang sangat teknokratis, sementara ‘Kemiskinan’ didefinisikan dengan asumsi bahwa kawasan ‘Timur’ adalah kawasan tertinggal.

Akan tetapi, apakah narasi yang meletakkan Jakarta sebagai ‘centre’ ini menjadi satu-satunya narasi yang ‘sah’ dan harus diikuti di Indonesia? Apakah pembangunan di Indonesia harus dimaknai dalam kerangka modernitas yang disusun oleh Jakarta?

Adalah Jean-Francois Lyotard, seorang sosiolog Perancis, yang pertama kali membongkar mitos-mitos modernitas ini. Dalam bukunya, “The Postmodern Condition A Report on Knowledge” (1979), ia mencatat bahwa narasi-narasi besar yang membentuk modernitas telah runtuh dalam masyarakat saat ini.

Runtuhnya narasi besar itu disebabkan oleh adanya paradoks –di satu sisi modernisasi dianggap sebagai sesuatu yang ‘niscaya’ dalam kehidupan manusia karena perkembangan dan kemajuan yang dihasilkannya, sementara di sisi lain ia sebetulnya adalah bentuk-bentuk kekuasaan tertentu yang menghadirkan dirinya.

Narasi besar modernitas itu dilihat oleh Lyotard dalam bentuk sains. Kita akan melihat hal serupa dalam narasi modernitas yang direproduksi oleh ‘Jakarta’. Jika Jakarta diklaim sebagai ‘centre’ yang kemudian menjadi rujukan dari semua narasi di bawahnya, kita dapat melihat bahwa ada proses-proses kekuasaan di baliknya.

Dengan demikian, bentuk modernitas di Indonesia –atau yang saya sebut sebagai ‘Jakartacentrism’— pada hakikatnya adalah bentuk hegemoni kultural. Maka dari itu, perlu ada upaya untuk mendekonstruksi hegemoni tersebut.

Momen Banjir

Banjir Jakarta menjadi sebuah momen untuk memotret krisis yang menimpa  hegemoni itu. Banjir yang menerjang Jakarta  memperlihatkan bahwa peradaban yang ditopang oleh modernitas –melalui mall, apartemen mewah, gedung pencakar langit,justru melahirkan paradoks karena tak mengindahkan lingkungan.

Kemewahan dan gaya hidup kelas menengah atas tak bisa berkutik apa-apa menghadapi alam yang kian beringas. Justru, gaya hidup itu terkunci oleh banjir yang memotong akses transportasi dan komunikasi.

Artinya, tak selamanya ‘modernitas’ itu harus ditiru seratus persen. Ada kalanya modernitas itu justru mengalami krisis dan kontradiksi. Ini justru menjadi momen bagi ‘yang lain’ untuk tampil menegaskan eksistensinya.

Dari banjir Jakarta ini juga, berkembang sebuah aktivitas: kerelawanan. Sikap tolong-menolong tanpa pamrih yang sulit kita temui di Jakarta pada waktu normal justru mendapatkan tempatnya ketika banjir. Ketika uang tak lagi bicara, semangat solidaritas dan rasa kemanusiaan menjadi dasar untuk bergerak.

Ketika banjir itu surut, kita akan sampai pada pertanyaan: mampukah sikap-sikap itu dipertahankan? Mungkin, kita perlu memformat Jakarta yang benar-benar baru setelah banjir ini berakhir, dalam format keindonesiaan yang lebih paripurna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s