Datu Kalampayan dan Ilmu Sosial Banjar

ImageSyekh Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan) boleh meninggal dunia tiga abad silam. Akan tetapi, warisan yang beliau tinggalkan masih tetap tersimpan hingga kini.

Kapasitas Syekh Arsyad sebagai seorang ulama besar di tanah Banjar sudah tak bisa dipungkiri lagi. Setiap tahun, haul beliau selalu ramai diperingati oleh ribuan umat Islam baik dari tanah Banjar hingga luar pulau.  Dengan berbagai kitab yang beliau tulis, serta tradisi pesantren yang beliau wariskan dari Dalam Pagar, tak ada yang meragukan ke-ulama-an beliau.

Namun, kapasitas beliau sebagai seorang ilmuwan –atau pemikir Muslim— tak banyak diungkap. Syekh Arsyad terkenal tidak hanya sebagai seorang mufti yang mengeluarkan fatwa bagi kerajaan. Beliau juga mewariskan banyak sekali kitab yang mencerminkan khazanah intelektual yang beliau kembangkan. Kitab-kitab beliau memang  lebih banyak berkutat pada cabang-cabang ilmu agama, seperti fiqh, tasawuf, atau ushuluddin.

Akan tetapi, bagi seorang pengkaji ilmu sosial seperti saya, warisan intelektual Syekh Arsyad tidak terbatas hanya pada produk pemikiran yang ia hasilkan, melainkan juga cara berpikir dan metode pencarian pengetahuan yang beliau gunakan.

Karya terakhir Alm. Darliansyah Hasdi, “Fatwa-Fatwa Spesifik Syekh Arsyad Al-Banjari” (2009) cukup membuka pandangan kita untuk melihat karya-karya Syekh Arsyad secara lebih epistemologis. Temuan Darliansyah menyatakan bahwa pemikiran Syekh Arsyad memiliki kekhasan sendiri yang memberi nuansa baru pada khazanah Syafi’iyah.

Sebagai seorang penganut mazhab Syafi’iyah, beliau banyak mengadopsi metode istinbath hukum yang dikembangkan oleh Imam Syai’i. Namun, menurut Darliansyah, cara beliau menentukan hukum cukup berbeda. Ada beberapa produk hukum yang berbeda dengan pendapat mayoritas ulama Syafi’I, seperti pendapat beliau tentang haliling atau memakamkan jenazah dengan menggunakan tabela.

Pendapat beliau ini mencerminkan dua hal. Pertama, Syekh Arsyad menggunakan pendapat Imam Syafi’i tidak pada tataran produk hukum, tetapi pada metode istinbath, yang artinya menggunakan Syafi’I sebagai epistemologi hukum tertentu. Kedua, hal ini memungkinkan beliau untuk melakukan kontekstualisasi pada ranah yang lebih bersifat lokal.

Epistemologi Syafiian –jika saya boleh menggunakan istilah ini—memiliki kekhasan sendiri dalam khazanah intelektual Islam. Imam Syafi’I banyak menggunakan pendekatan sosiologis dalam merumuskan hukum.

Kita kenal metode maslahah mursalah, yang memungkinkan seorang pembuat fatwa untuk menentukan hukum berdasarkan kemasalahatan bersama. Atau, kita juga kenal metode qiyas, yang memungkinkan persoalan lokal dapat teratasi melalui analogi pada sumber hukum yang sudah ada.

Dalam epistemology Syafiian juga, walau tidak spesifik merujuk ke beliau, kita kenal sebuah kaidah ushul fiqh, “al-adat al-muhakkamah” –adat bisa menjadi hukum, sepanjang tidak bersesuaian dengan sumber hukum primer.

Dengan beberapa hal ini, kita bisa simpulkan bahwa yang menjadi sangat khas dari epistemology Syafiian adalah kemampuannya untuk berdialog dengan lokalitas, di mana rujukan hukum tidak hanya berasal dari nash tetapi juga bisa diinspirasikan dari lingkungan sekitar.

Dalam khazanah ilmu sosial, ada satu pemikir lain yang cukup dekat dengan Syafii: Ibn Khaldun. Bedanya, jika Imam Syafii berkutat pada wilayah fiqh, Ibn Khaldun menggunakan pendekatannya pada ranah sosiologi.

Corak epistemologi Ibn Khaldun mewakili pendekatan yang kini dikenal sebagai materialism. Sejarah, menurutnya, adalah perjuangan manusia untuk bertahan hidup dan membangun hubungan sosialnya dengan orang lain. Dari sana, ia memperkenalkan konsep ashabiyah, yang terbentuk dari aktivitas manusia dan membentuk konstruksi mengenai masyarakat, negara, hingga kebudayaan.

Corak epistemologi Syafi’I dan Ibn Khaldun berorientasi pada ‘masyarakat’. Ini membentuk konsepsi tentang ‘al-adatul muhakkamah’ dalam fiqh atau ashabiyah dalam teori pembentukan negara. Dengan corak epistemologis ini, pemikiran Ibn Khaldun dan Syafii memungkinkan untuk dikembangkan untuk melihat fenomena-fenomena sosial yang lain.

Bagaimana dengan pemikiran Syekh Arsyad? Jika mengikuti argument yang dibangun oleh Darliansyah Hasdi, kita akan menemukan corak yang sangat khas Syafiian dalam fatwa-fatwa Syekh Arsyad. Ada beberapa fatwa yang diambil hukumnya secara istiqro’i (induktif) oleh Syekh Arsyad, yang mencerminkan pergumulannya dengan realitas sosial masyarakat Banjar.

Artinya, kita bisa menyimpulkan bahwa Syekh Arsyad, secara epistemologis, mampu menghubungkan pendekatan qur’ani yang sangat tekstual, dengan pendekatan sosiologis-antropologis yang sangat kontekstual.

Dalam diskursus ilmu sosial Indonesia, kita mengenal sebuah gagasan “Ilmu Sosial Profetik” yang dilontarkan oleh Prof. Kuntowijoyo. Gagasan tersebut menyatakan perlunya pertemuan antara Islam yang berbasis pada teks Qur’an dan Sunnah dengan ilmu sosial yang objektif.

Pertemuan tersebut perlu dilakukan melaluio objektivikasi atau ‘pengilmuan’ atas pendekatan-pendekatan yang telah digariskan oleh nash. Sehingga, dikotomi antara ilmu agama dan ilmu sosial dapat dihilangkan dan menjadikan Islam sebagai ilmu yang bersifat universal.

Gagasan ini, jika ditelaah lagi, sebetulnya akan kita temui pada epistemologi Syekh Arsyad Al-Banjari. Gagasan “Ilmu Sosial Profetik” sangat bersesuaian dengan pendekatan istinbath yang digunakan oleh Syekh Arsyad untuk merumuskan fatwa-fatwanya.

Hanya saja, hal ini tidak banyak dikembangkan oleh ahli-ahli ilmu sosial dari tanah Banjar. Syekh Arsyad diperingati haulnya setiap tahun di Kalampayan, tetapi kurang diperingati ‘haul epistemologis’-nya dengan mempelajari kembali metode-metode keilmuan beliau.

Sehingga, saat ini, mengingat perkembangan masyarakat Banjar yang kian majemuk dan dipengaruhi oleh globalisasi, ada baiknya epistemologi Syekh Arsyad dikembangkan kembali untuk menjawab masalah-masalah sosial yang ada.

Kompleksitas masalah pembangunan membutuhkan tidak hanya ahli agama; ia juga perlu ahli sosial-politik-ekonomi-sains-teknologi yang bervisi agama. Pada titik inilah warisan Syekh Arsyad sangat relevan bagi masyarakat Banjar yang religius.

Semoga pengembangan gagasan ini mampu melahirkan Arsyad-Arsyad baru yang menjadi guru bagi warga Kalimantan Selatan.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s