Penulis dan Tulisannya

ImageSaya sedikit tersenyum ketika membaca komentar-komentar di tulisan saya yang terbaru. Tulisan itu esei seperti biasa, tentang anak muda Ikhwan. Tapi beberapa kawan berkomentar, “ini jadi semacam curhat dari penulisnya”.

Komentar-komentar semacam itu membuat saya tersenyum dan tergerak menulis catatan singkat ini. Bagi saya, tulisan bukanlah sesuatu yang keluar dari alam pikiran lalu menguap begitu saja di layar komputer. Atau, cuma sekadar pelampiasan hasrat. Bagi saya, menulis itu seperti berbicara dengan orang lain. Dari tulisan-lah orang akan mengenal “siapa saya” dan “seperti apa saya hidup”.

Maka dari itu, jika ada yang menyebut tulisan-tulisan saya semacam curhat, di sisi ini bisa diterima. Menulis adalah identitas. Aku adalah apa yang aku tulis. Dengan demikian, seorang penulis akan terikat dengan tulisannya secara emosional, karena apa yang ditulis oleh seorang penulis, pada hakikatnya adalah ‘penampakan’ dari si penulis itu juga.

Mungkin jadi terdengar agak seram. Baiklah, saya akan memberi sedikit ilustrasi.

Novel-novel dan cerpen Pramoedya Ananta Toer (kemudian saya singkat Pram) punya satu ciri khas: kemampuannya menceritakan sejarah dan menjadikan sejarah itu kontekstual, seperti hidup kembali di dunia ini. Pram, misalnya, menulis tentang Ken Arok (Arok Dedes). Dalam novelnya, ia sebetulnya hanya menceritakan kembali kisah hidup Ken Arok, pendiri kerajaan Singasari, dan kisah hidupnya dalam melawan Tunggul Ametung.

Pertanyaannya, apa yang membuat novel Pram menjadi berbeda? Salah satunya adalah karena karakter emosional yang disalurkan oleh Pram melalui novel itu. Cerita tentang Ken Arok mungkin akan sering kita jumpai dalam buku-buku sejarah SMA. Yang membedakan Pram dengan penulis buku SMA itu adalah karakter dan identitas penulisnya. Di tangan seorang komunis seperti Pram, cerita tentang Ken Arok menjadi sangat revolusioner, menggugah semangat juang, dan berkarakter perlawanan. Ia bisa membuat Ken Arok menjadi seperti Lenin -propagandis dan pejuang politik ulung.

Hal itu, tentu saja, tidak akan kita jumpai pada buku sejarah SMA yang penulisnya hanya belajar sejarah dari kampus.

Itulah pertautan antara seorang penulis dan tulisannya. Bagi seorang penulis, ide bisa muncul dari mana saja. Dari seorang bapak yang membaca koran di pinggir jalan, dari pejabat, dari cerita revolusioner seperti Ken Arok, atau mungkin yang sering saya lakukan: dari kisah-kisah tokoh gerakan Islam. Yang membuat tulisan kita punya karakter adalah cara kita memberi makna.

Bagi saya, sebuah ide, dari manapun asalnya, akan menjadi bermakna manakala ia punya relevansi dan keterhubungan dengan apa yang terjadi hari ini. Itulah yang membuat karakter tulisan seseorang menjadi berbeda. Cerita tentang anak-anak muda Ikhwan yang membandel di lapangan Tahrir mungkin akan dianggap biasa saja bagi elit KAMMI yang ada di struktur tanzim. Tapi, bagi saya, cerita itu menjadi sangat terasa penting karena ia merefleksikan apa yang terjadi pada kawan-kawan saya yang juga cukup bandel.

Itulah yang menjadikan tulisan saya (dan mungkin juga tulisan-tulisan kawan lain) punya makna. Tanpa relevansi dengan apa yang terjadi saat ini, dan apa yang terjadi pada kawan-kawan di sekitar saya, cerita tentang anak-anak muda di Tahrir mungkin akan sama seperti berita di harian Kompas atau Tempo.

Dengan demikian, sebuah tulisan jadi punya makna jika ia merefleksikan apa yang dirasakan penulisnya dalam kehidupan sehari-hari. Atau, apa yang direfleksikan oleh penulisnya pada lingkungan sekitarnya. Inilah yang saya sebut realisme. Dari sinilah seorang penulis menjangkarkan tulisannya. Tanpa keterikatan dengan dunia nyata, tulisan seseorang akan menjadi hampa makna, tak lebih dari sekadar ledekan kelas menengah di media sosial.

Saya kira, itulah yang membuat Pramoedya, Martin Aleida, Agam Wispi, S. Anantaguna, atau mungkin juga Hamka dan Kuntowijoyo menjadi penulis-penulis hebat. Tulisan mereka adalah penampakan dari kehidupan mereka di tengah masyarakat. Dan dari sanalah, mereka memberikan makna-makna yang menggetarkan jiwa dari tulisan-tulisan mereka.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s