Tahrir

ImageAda sedikit cerita menarik dari jurnalis Mariz Tadros, mantan jurnalis Ahram, pada salah satu buku tebalnya tentang Ikhwanul Muslimin. Ini tentang anak-anak muda Ikhwan.

Awal Januari 2011, Mesir sedang gelisah. Satu bulan sebelumnya, rezim politik tumbang di Tunisia. Tentu saja gelora untuk melanjutkan ‘revolusi’ sedang berdebar-debar di dalam dada anak-anak muda Mesir. Aktivis politik, rata-rata dari kalangan anak muda sedang giat-giatnya menggelar rapat dan turun ke jalan, berupaya memindahkan kejadian ‘tetangga’ ke dalam rumah sendiri.

Suasana ini mungkin mirip dengan suasana menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, ketika anak-anak muda yang tak sabaran sedang harap-harap cemas ketika mendengar Jepang kalah perang.

Kecemasan itu mungkin juga melanda anak-anak muda Ikhwanul Muslimin. Sebagai organisasi yang bisa dibilang tua, berusia lebih dari 80 tahun, dan selama bertahun-tahun pula menentang rezim Mubarak, Ikhwan tentu sangat berkepentingan dengan revolusi. Bayangkan, apa yang mereka usahakan sejak tragedi Manshuriyah sedang di depan mata. Mubarak lagi di ambang kehancuran.

Anak-anak muda Ikhwan sudah sejak lama bergiat di bawah tanah. Beberapa di antara mereka, seperti Muhammad Adel, Muhammad Al-Qassas, atau Islam Lutfy, sudah sejak tahun 2008 bekerjasama dengan aktivis muda liberal dalam Gerakan 6 April. Asif Bayat mencatat gerakan mereka sebagai fenomena baru dalam gerakan yang menentang Mubarak. Anak-anak muda ini menggabungkan internet dan demonstrasi untuk mendukung pemogokan buruh di Al-Mahallah Al-Kubra, yang kemudian meluas, membuat mereka segera mendapat label ‘kriminal’ oleh rezim Mubarak.

Tentu saja aktivitas mereka yang terbilang bebas itu bukan sikap resmi jama’ah. Tadroz mencatat ada tiga faksi besar di tubuh Pemuda Ikhwan. Faksi pertama adalah faksi taat dan secara resmi memegang ‘komando’ jamaah (kira-kira mereka ini yang rajin liqo dan turut dengan taklimat). Faksi kedua adalah faksi yang pasif, mereka yang bermain aman di dalam jamaah sembari tetap mengorganisir di luar. Sementara faksi ketiga lebih bandel, mereka yang aktif di mana-mana tanpa peduli itu dilarang tanzim atau tidak.

Menariknya, faksi ketiga ini adalah mereka yang jaringannya luas dan paham teknologi. Contoh: Muhammad Adel lama berkiprah sebagai IT Support Ikhwanonline, laman informasi Ikhwan yang berbahasa Arab. Adel, Lotfy, kemudian juga bergabung orang seperti Ja’far al-Zaafarani (putera Ibrahim al-Zaafarani, tokoh Ikhwan Alexandria) dan kawan-kawannya inilah yang aktif membawa semangat revolusi Tunisia ke Mesir.

Singkat kata, bulan Januari sudah menapak akhir bulan. Situasi kian memanas. Khalid Said, seorang blogger, disiksa oleh aparat keamanan gegara aktivitas blogging-nya yang dianggap subversif dan meninggal. Kematian Khaled Said membangkitkan amarah anak-anak muda. Tanggal 25 Januari, aktivis-aktivis yang selama ini bergerak di bawah tanah memutuskan untuk turun ke jalan.

Hari itu kemudian tercatat dalam sejarah sebagai yaum al-ghadhab; hari kemarahan. Anak-anak muda itu, termasuk di dalamnya anak-anak muda Ikhwan, turun ke lapangan Tahrir dan meneriakkan slogan-slogan yang dulunya tabu: Mubarak harus turun. Konon ada ribuan orang yang turun ke Tahrir.

Tapi ada satu hal yang menarik: di antara organ-organ yang turun ke jalan hari itu, tidak terlihat Ikhwanul Muslimin. Mereka merilis pernyataan di Ikhwanweb, laman resmi mereka, menyatakan bahwa mereka mendukung aksi tapi tidak menurunkan massa. Tidak tanggung-tanggung, perintah itu langsung dikeluarkan oleh Mursyid ‘Am, Muhammad Badie. Siapa berani membantah?

Di sinilah muncul hal yang sangat penting: pernyataan ini membelah aktivis-aktivis muda Ikhwan itu. Kendati ada instruksi (sering dikenal taklimat atau bayanat) untuk tidak turun aksi, ternyata masih ada segelintir yang membandel. Di antara anak bandel itu adalah Islam Lotfy, pengacara muda Ikhwan yang justru tampil di layar televisi sebagai juru bicara aksi. Ia mewakili Gerakan 6 April.

Sikap ini tentu saja membuat Ikhwan menjadi tidak populer. Beberapa faksi progresif Ikhwan rupanya segera mendesak agar Ikhwan turut ambil bagian. Diadakanlah rapat: Tandzim akhirnya memutuskan untuk turun di hari Jumat.

Hari itu, aksi semakin membesar. Sejarah mencatat hari itu sebagai Jumat al-Ghadhab: Jumat Kemarahan. Di situlah Ikhwan turun pertama kali ke pentas ‘revolusi’.

Tadros kemudian mencatat, Ikhwan hanya turun sampai maghrib, tidak bermalam di Tahrir seperti organ lainnya. Tandzim memerintahkan seluruh barisan Ikhwan menarik diri. Tapi, sebagaimana Tadroz mencatat, tidak semua anak muda Ikhwan menaati perintah tanzim-nya. Mereka lebih memilih bertahan di jalan dan dengan demikian ‘membangkang’ terhadap jamaah.

Dalam tradisi di Ikhwan (yang kemudian secara lebay dipraktikkan oleh simpatisan Ikhwan di Indonesia), “pembangkangan” serupa dengan kejahatan. Mereka yang tidak taat dengan perintah tanzim, struktur penguasa, harus siap dikeluarkan. Rupanya anak-anak muda ini siap menghadapi risiko dikeluarkan dan dikucilkan dari jamaah ini. Mereka tetap bertahan di Tahrir.

Dan ternyata, sikap mereka terbukti tepat. Hari demi hari, demonstrasi kian membesar dan rezim kian kalap. Penangkapan terjadi di mana-mana. Akhirnya, tanzim Ikhwan tidak tahan juga. Mereka menyatakan diri bergabung dengan barisan revolusi hingga tumbangnya Mubarak pada 11 Februari 2011.

Hari ini, tiga tahun sudah berselang sejak Yaum al-Ghadhab. Banyak peristiwa yang terjadi. Anak-anak muda yang membangkang itu sebagian bergabung kembali dengan ayah kandungnya, tapi beberapa memilih melanjutkan revolusi dengan anak-anak muda lain.

Islam Lotfy, Muhammad al-Qassas, atau Muhammad Abbas kemudian bergabung dengan Revolutionary Youth Council, salah satu kelompok minor yang muncul setelah revolusi. Mereka mendukung pencalonan Abdul Mun’im Abul Futuh sebagai presiden (yang lagi-lagi menentang jamaah). Kali ini, mereka tak semujur sebelumnya. Rupanya Maktab Irsyad sudah menentukan Muhammad Mursy sebagai calon presiden, dan semua kader harus mendukung.

Dalam tradisi Ikhwan yang sangat doktriner, hanya ada dua pilihan: mendukung pilihan Jamaah atau keluar. Anak-anak muda itu rupanya memilih yang kedua. Mereka tak sendiri. Bersama mereka, keluar pula tokoh-tokoh progresif Ikhwan lain, baik yang tua atau yang muda, karena mendukung Abul Futuh.

Keputusan inilah yang mungkin akan disesali nantinya oleh Ikhwan. Mendepak anak-anak muda kritis, yang membangkang pada tanzim, hanya mengurangi kekuatan jamaah. Terbukti, kekuatan Ikhwan yang tersisa hanya berumur setahun: Ikhwan dihabisi pada 2013 dan Mesir kembali ke masa kelam bersama militer.

Cerita di lapangan Tahrir pada tanggal 25 Januari 2011 lalu, kendati kini kita kenang dengan getir, menyiratkan satu hal penting: tidak perlu alergi dengan perbedaan dan kritik. Setua apapun organisasi kita, pasti ada anak-anak muda yang darah muda-nya berderap dan menginginkan perubahan. Mereka bukanlah musuh. Kadang-kadang, merekalah justru yang mencetak golden goal di waktu injury time.

Setidaknya, Ikhwanul Muslimin sudah membuktikan satu hal: mereka yang bergerak tanpa restu, justru ialah mereka yang membuka jalan bagi perubahan di masa depan.

Selama gerakan mahasiswa Islam di Indonesia hanya patuh pada perintah ustadz yang sedang berburu suara di Pemilu lantas membungkam suara anak-anak muda yang kritis, mungkin perlu ada yang mengingatkan: jangan sampai menutup pintu perubahan.

Sebab, tidak selamanya kemenangan itu dicapai lewat 3 besar Pemilu. Jangan-jangan, seperti di Mesir, menang Pemilu itu justru awal kehancuran.

Selamat menyambut tahun 2014, bro!

**Mengenang Revolusi Mesir yang dibajak tentara, 25 Januari 2011-25 Januari 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s