Intelektual dan Pengetahuannya

487857_495724780473086_1247586938_nHari ini, civitas Gadjah Mada ketiban sesuatu yang besar: ‘skandal’ plagiarisme yang dituduhkan pada AA, seorang dosen senior yang juga malang melintang di dunia birokrasi, hingga berujung pada pengunduran dirinya. Media sosial dan media elektronik heboh. Mengingat, skandal itu terjadi di salah satu media terkemuka di Indonesia.

Saya tidak akan cerita panjang lebar soal itu. Mengingat, saya juga bukan siapa-siapa, hanya seorang sarjana yang baru lulus dari kampus Gadjah Mada. Tapi, saya ingin mencoba sedikit mengarifi -di sela-sela istirahat rumah akibat kena ‘kutukan’ abu Gunung Kelud kemarin.

Skandal yang dialami AA, pemegang gelar Doktor dari sebuah universitas terkemuka di negeri Paman Sam, adalah semacam jebakan bagi kaum intelektual: jebakan ‘jalan pintas’. Menulis adalah aktivitas utama kaum yang disebut ‘cendekiawan’, ‘intelektual’, semacamnya -pengetahuan letaknya di ujung pena. Menulis, dengan demikian, adalah aktivitas yang tidak main-main; ia akan menentukan kemana bangsa ini akan diarahkan.

Ada sedikit cerita dari legenda orang-orang Yunani soal pengetahuan ini. Konon, kemajuan dan pengetahuan manusia itu dibawa oleh Prometheus, seorang Titan pintar yang berpihak pada para Dewa. Prometheus mencuri api Olympus, menipu Zeus, dan menyerahkannya pada umat manusia. Jadilah manusia punya penerangan yang cukup untuk memajukan dirinya, dikembangkan melalui api, lambang pengetahuan.

Tapi tentu saja Zeus marah-marah. Ia memenjarakan Prometheus karena sudah mencuri apinya dengan mengurungnya di sebuah batu dan mengirimkan burung nasar untuk memakan hatinya, terus-menerus. Konon, ia dibebaskan oleh Herakles, putera Zeus.

Jika mengambil ibrah dari legenda kaum Yunani di atas, kaum intelektual adalah pemegang api Olympus itu. Api yang dibayar dengan darah dan daging Prometheus.

Ah, mungkin jadi agak berlebihan. Tapi mungkin kita perlu bertanya: apa makna pengetahuan itu sebenarnya? dan apa sebenarnya makna jadi intelektual?

Saya ingin mengembalikan pengetahuan itu pada hakikat kemanusiaan kita. Tidak ada yang menyangkal bahwa manusia tak dapat hidup di dunia ini tanpa makan dan minum. Ini sudah diwanti-wanti oleh Ibn Khaldun. Karena manusia butuh makan, ia butuh cara untuk mendapatkan makanan. Para antropolog mungkin akan mengatakan: yang dilakukan manusia untuk bertahan hidup adalah berburu, meramu, lalu di tingkat yang lebih lanjut: bertani.

Di sini, kita melihat bentuk pengetahuan yang paling dasar; teknologi berburu, cara meramu, cara mendapat makanan. Lalu kemudian lebih kompleks -menyasar pada dimensi sosialnya: berhubungan dengan orang lain (lahirlah bahasa), bekerjasama, dan karena manusia hidup berkelompok, memilih pemimpin (lahirlah politik).

Pengetahuan-pengetahuan semacam itu tidak turun dari langit, tetapi hadir bersama dengan kehidupan manusia di bumi. Seiring dengan itulah manusia bisa hidup, berkembang, membangun peradaban, membuat mata uang, membentuk pemerintahan, dan lain-lain. Pengetahuan adalah cara manusia untuk bertahan hidup.

Kemudian pengetahuan itu diwariskan. Ada yang dilakukan dengan bahasa lisan, dan, pada perkembangannya, muncul bahasa Tulisan. Para sejarawan akan menyebut: ini dimulai era sejarah. Tulisan inilah yang menjadi pedoman bagi generasi berikutnya untuk hidup. Tulisan menandai sejarah umat manusia.

Dan jangan lupa, bahkan agama pun dikembangkan dengan tulisan.

Dengan demikian, tulisan itu bukan sekadar memenuhi cum (bagi para dosen) atau mengumpulkan tugas (bagi mahasiswa) atau sekadar memenuhi tugas profesional (bagi wartawan/yang lainnya), tetapi jauh lebih dari itu: tulisan adalah ‘penanda’ kehidupan kita! Menulis tak bisa lepas dari tumbuh dan berkembangnya masyarakat. Begitu juga dengan pengetahuan.

Sejarah sudah menyatakan: pengetahuan tumbuh, hidup, dan berkembang dari rakyat.

Saya tidak tahu kapan ‘intelektual’ menjadi ciri kaum elit yang terpisah dari masyarakatnya. Mungkin para intelektual itu, seperti kata Edward Said, seperti eksil; dijauhi orang banyak, terpisah dari kehidupannya karena ide-ide yang ia bawa. Bisa jadi, mungkin, karena ide-ide itu mengganggu orang-orang yang ingin berkuasa. Ini seringkali terjadi. Tapi bukan berarti intelektual itu lingkar-lingkar yang tidak menjangkarkan idenya kepada masyarakat.

Seradikal apapun ide, ia pasti punya keterkaitan dengan masyarakat. Dan oleh sebab itu, ide yang muncul akan punya dampak kepada masyarakat. Di sini, intelektual pasti akan dihadapkan pada pilihan akan posisi: berada di sebelah mana? Membantu siapa? Untuk apa pengetahuan itu diberikan?

Maka dari itu, tugas seorang intelektual, sejatinya, menjadi berat. Mengartikulasikan apa yang ada di masyarakat, menafsirkannya, dan lebih luas: menjadikan pengetahuan itu ‘api’ yang menerangi masyarakat ke jalan yang lurus. Menulis juga ‘berat’. Bagi seorang penulis, tulisan itu bak senjata : ia bisa menembak musuh, bisa juga membakar perkampungan.

Bagi seorang intelektual seperti AA, yang punya gelar Doktor dari Amerika Serikat (dan tentu saja tidak sembarangan), tulisan-tulisannya punya dimensi pertanggungjawaban yang lebih dari sekadar konferensi pers di University Club UGM. Masalah dugaaan plagiarisme mungkin bisa selesai dengan pengunduran diri, tapi bagaimana mempertanggungjawabkan isi tulisan itu pada khalayak masyarakat? Untuk apa tulisan tentang ‘asuransi bencana’ itu ditulis? Dan mengapa tulisan itu ditulis?

Mungkin, bagi seorang tukang becak yang bekerja seharian untuk menghidupi anak-isterinya, masalah plagiarisme itu tidak penting. Itu tak lebih dari sekadar masalah elit -antara AA dengan HS yang tulisannya dikutip tanpa izin. Tapi yang jauh lebih penting, apakah tulisan itu bisa membawa manfaat untuk mengangkat si tukang becak dari penderitaannya selama ini?

Ah, mungkin menulis itu kutukan. Bukan hanya bagi intelektual papan atas semacam Doktor AA, tetapi mungkin juga bagi sarjana yang baru lulus dan pekerjaannya tidak jelas seperti saya. Atau juga bagi anda. Mungkin juga mahasiswa di luar negeri.Dan itu artinya, apa yang kita baca, apa yang kita tulis, apa yang kita diskusikan, semua akan dipertanggungjawabkan. Bukan (hanya) kepada Tuhan, tetapi kepada tukang becak, tukang ojek, pak tani, cleaning service, dan semua yang mempercayakan api pengetahuan kepada kita semua.

Sebab seperti kata Antonio Gramsci, intelektual Italia yang meninggal dalam penjara, semua orang itu intelektual. Tapi tidak semua orang punya fungsi intelektual di masyarakatnya. Dan intelektual bagi Gramsci itu adalah yang berjuang dan menyuarakan aspirasi masyarakatnya yang tertindas. Intelektual UGM? Saya tiba-tiba jadi malu dengan gelar kesarjanaan yang kemarin saya terima, karena perjuangan belum dimulai, ternyata belum apa-apa.

Maka, bagi para sarjana (termasuk saya), berhati-hatilah! Karena setiap kita adalah intelektual, dan setiap intelektual akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang mereka tulis…

Setelah hujan menyapu abu, Februari 2014.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s