Haul Guru Sekumpul: Sebuah Catatan Personal

Beberapa hari ini, kawasan Sekumpul Martapura dipadati oleh para peziarah dan jamaah yang akan mengikuti haul Guru Sekumpul, ‘Alimul ‘Allamah KH Zaini Abdul Ghani, yang juga dikenal sebagai Guru Sekumpul atau Guru Ijai (sebagai kami memanggil beliau). Beliau memang ulama kharismatik. Jamaah pengajian beliau dulu selalu dipadati jamaah, dan banyak murid beliau yang kemudian juga menjadi ulama di Kalimantan Selatan. Konon, di tahun 1990an, beliau pernah menjadi Mustasyar PBNU di masa kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga menghormati beliau.

Saya tentu tidak ikut melaksanakan haul. Alasan pertama adalah jauh – lha gimana, saya berada di Brisbane sini, terpaut Laut Arafuru dan Samudera Pasifik dari Sekumpul Martapura. Alasan kedua adalah teologis – sebagai warga Muhammadiyah, tentu saya tidak biasa melakukan haul. Well, ini cukup klasik dan sebaiknya saya tidak usah ceritakan disini (karena berdasarkan pengalaman, perdebatannya bisa tidak berakhir sampai satu hari satu malam, hahaha). Walaupun orang-orang Muhammadiyah (“Kaum Muda”, kalau dalam sejarah Alabio) tidak mahaul, tetap saja jamaah berdatangan ke Sekumpul untuk haul dan ziarah.  Continue reading “Haul Guru Sekumpul: Sebuah Catatan Personal”

Catatan harian #PhDJomblo (9): Mazhab

Syahdan, dalam studi Hubungan Internasional, Mazhab Konstruktivisme Amerika Serikat tahun 1990an berkembang di dua titik utama: Cornell dan Minnesota. Ada dua orang Profesor masyhur nan terkenal disini, yang pada awalnya sebenarnya bukan Konstruktivis: Peter Katzenstein di Cornell, Raymond ‘Bud’ Duvall di Minnesota. Keduanya lahir dalam tradisi behavioralis tahun 1960an (sangat khas Amerika bukan?) tetapi mendidik mahasiswa dengan tradisi teoretis yang sangat beragam. Keduanya memang dikenal sebagai Profesor kawakan – Katzenstein mengedit International Organization, jurnal nomor 1 di Amerika (dan dunia, sampai saat ini), sementara Bud Duvall mengelola Departemen Ilmu Politik di Minnesotta.

Walaupun ada banyak penulis lain, nama keduanya lekat sebagai generasi pertama pemikir Konstruktivis dalam studi HI. Tapi di luar karya-karya mereka, yang ‘eksepsional’ dari dua Profesor ini adalah murid-muridnya. Mereka memang dikenal sebagai mentor yang luar biasa (well, saya cuma mendengar ini dari salah satu supervisor saya, yang notabene adalah muridnya Katzenstein, hehehe). Punya perspektif yang khas, tapi konon juga punya kepedulian untuk mengasah dan mengembangkan potensi intelektual muridnya. Inilah kemampuan yang susah didapat oleh peneliti dan ilmuwan muda yang masih ‘hijau’ dan kadang berapi-api.  Continue reading “Catatan harian #PhDJomblo (9): Mazhab”

Catatan Harian #PhDJomblo (8): Distraksi-Distraksi Positif

Kemarin, Direktur Pascasarjana mengirim satu email yang berisi “enam kebiasaan akademik positif menjadi penulis produktif”. Ternyata itu dikirim ke dia oleh Bapak Supervisor, hehehe. Keduanya memang terkenal produktif dan prolifik. Nah, singkat kata, kok ada beberapa poin yang sepertinya juga relate dengan pengalaman saya menulis, dan mungkin perlu juga dikupas disini.

Salah satu poin dari ‘enam kebiasaan akademik’ tersebut adalah “menulis di luar jadwal” atau, salah satu alternatifnya, “menulis bebas” (freewriting). Jadi, saran si penulis, kalau sedang menulis besar (buku, misalnya, atau riset PhD), anda pasti akan menemui deadline yang menggunung. Apalagi anda #PhDJomblo seperti saya, pasti akan ketambahan satu hal: sendiri. Nah, kadang-kadang hal tersebut stressful, bikin frustasi, atau kalau nggak ya bikin galau. Jadi, anda perlu rehat sesekali… tapi awas, jangan sampai kehilangan momentum buat nulis! Nah, disini, menulis bebas secara lebih rileks akan menjadi satu alternatif solusi. Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (8): Distraksi-Distraksi Positif”

Catatan Harian #PhDJomblo (7): Adaptasi Sosial di Luar Negeri

Saya harus bikin pengakuan (halah, ngaku-ngaku): salah satu “tantangan” terbesar saya ketika datang ke Brisbane adalah beradaptasi secara sosial. Ini bukannya beradaptasi dengan masyarakat Australia secara umum (yang pada dasarnya sama saja dengan masyarakat Inggris, walau lebih santai). Justru, adaptasi saya adalah dengan lingkungan masyarakat Indonesia di sini. Aneh, memang. Justru bertolak-belakang ketika saya pertama kali datang ke Inggris 3 tahun silam.

Lho, kok bisa? Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (7): Adaptasi Sosial di Luar Negeri”

Catatan Harian #PhDJomblo (6): Islam Berkemajuan ala Al-Tahir Ibn Ashur

Kemarin (dan sepertinya dalam beberapa bulan ke depan), saya membaca kitab klasik dari Syaikh Al-Tahir Ibn Ashur yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Treatises on al Maqasid al-Shari’ah. Bukunya agak tebal, dan dimensi fiqh-nya sangat terasa. Maklum, Ibn Ashur adalah seorang ulama Fiqh di awal abad ke-20. Beliau berasal dari Tunisia dan sempat berinteraksi dan, secara tidak langsung, menjadi “murid” dari Muhammad ‘Abduh, Syaikhul Azhar kenamaan itu.

Nama Ibn Ashur memang tidak begitu terkenal di Indonesia – mungkin karena pendekatan fiqh beliau yang sangat jelas coraknya sebagai fuqaha Mazhab Maliki. Plus, bisa jadi, karena gagasan-gagasan pembaharuan keagamaan yang hadir di Indonesia ditransmisikan melalui Syaikh Rashid Rida’ melalui Tafsir Al-Manarnya, dan tidak banyak menghadirkan Ibn Ashur dan pemikiran-pemikiran keagamaanya. Belakangan, saya mengenal Ibn Ashur ketika membaca buku Muhammad Yasir ‘Audah (ofisialnya adalah Jasser Auda hehehe) tentang Maqasid Al-Shariah, yang sedikit banyaknya merujuk pada kajian luar biasa Ibn Ashur tentang Maqasid (selain, tentu saja, Imam Asy-Syathibi yang sudah terlebih dulu menulis tentang Maqasid Al-Shariah). Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (6): Islam Berkemajuan ala Al-Tahir Ibn Ashur”

Ahmad Rizky Mardhatilah Umar: Tarbiyyah yang Dikembangkan PKS Sudah Mentok

Wawancara di Indoprogress, 19 Desember 2014. Untuk versi yang ‘asli’, silakan rujuk ke https://indoprogress.com/2014/12/ahmad-rizky-mardhatilah-umar-tarbiyyah-yang-dikembangkan-pks-sudah-mentok/

Silakan dinikmati, sambil ngopi atau ngeteh saja ya, jadi tidak serius-serius amat! Hehehe.

MEMBICARAKAN Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tanpa menyebut keberadaan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), adalah abai sejarah. KAMMI, yang didirikan di Malang pada 29 Maret 1998 ini, merupakan jantungnya PKS. KAMMI adalah embrio PKS dan sekaligus wadah pencetak kader-kader PKS.

Dari hubungan seperti itu, tak terhindarkan anggapan bahwa garis politik dan ideologi PKS dengan sendirinya merupakan garis politiknya KAMMI. Bagaimana PKS memandang hubungan Islam dan Negara, terefleksi dalam pandangan KAMMI juga. Demikian pula, ketika KAMMI melakukan aksi-aksi politik yang konkret, hal itu dibaca sebagai bagian dari proyek politik PKS. Ketika KAMMI menolak kebijakan pemerintah yang memangkas subsidi BBM, maka hampir dipastikan itu merupakan turunan dari kebijakan PKS. Independensi gerakan adalah barang langka buat KAMMI.

Tetapi, pandangan umum yang sudah dianggap sebagai kebenaran ini, tidak sepenuhnya benar. Sebuah penelusuran yang lebih detil menunjukkan bahwa KAMMI bukanlah sebuah organisasi yang monolitik. Walaupun terbilang kecil, dalam tubuh KAMMI kini muncul sebuah gerakan pembaruan yang menyebut dirinya KAMMI Kultural, yang mencoba membawa pesan-pesan yang berbeda dengan anggapan umum selama ini terhadap KAMMI: tentang independensi KAMMI dari PKS, tentang kebebasan akademik, dan soal pluralisme dan toleransi. Untuk mengetahui perkembangan menarik ini, r IndoPROGRESS, berbincang-bincang dengan Ahmad Rizky Mardhatilah Umaraktivis KAMMI Kultural dan Tia Pamungkaspengajar di jurusan Sosiologi Universitas Gadjah Mada dan peneliti gerakan Tarbiyyah. Berikut petikannya: Continue reading “Ahmad Rizky Mardhatilah Umar: Tarbiyyah yang Dikembangkan PKS Sudah Mentok”

Catatan Harian #PhDJomblo (5): Fase “Langit Biru”

Alhamdulillah, sudah tepat dua bulan saya berada di Univesity of Queensland. Sudah beberapa gajian saya lalui. Sudah beberapa kali juga bertemu supervisor, dan sudah beberapa Workshop juga dilalui bersama Direktur Pascasarjana dan mahasiswa-mahasiswa Doktoral yang lain. Kini tinggal menuntaskan satu milestone atau capaian yang mesti saya tuntaskan di sini: Confirmation Review.

Masa2 ini, menurut pak Supervisor, adalah masa-masa “blue sky”, dimana kita menyusun “awan” kita sendiri di langit yang biru. Oh ya, saya harus disclaimer dulu: sebelum sampai ke UQ (tepatnya, ketika mendaftar), kita diharuskan untuk menulis proposal penelitian, yang kita kirimkan ke Direktur Pascasarjana sebelum kemudian didistribusikan ke dosen-dosen yang tertarik dengan riset saya. Dua hari kemudian, supervisor saya membalas dan memberikan beberapa respons. Saya membalas satu bulan kemudian dan dia langsung setuju, saya akhirnya mendaftar secara formal dan lima bulan kemudian dinyatakan diterima, lengkap dengan beasiswanya.

Eh, tapi, tunggu dulu. Sudah diterima bukan berarti proposal kita bisa langsung terus. Awal Februari kemarin, saya bertemu dengan Bapak Supervisor dan beliau langsung bilang begini, “ya, saya tau kalau mahasiswa sedang menulis proposal, mereka biasanya menulis terburu-buru. Jadi, biasanya beberapa bulan pertama, mahasiswa akan berada dalam fase “langit biru”, entah mereka mungkin akan terus dengan proposa dan ide yang sudah mereka tawarkan, atau malah berubah. Jangan takut, keduanya oke kok”.  Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (5): Fase “Langit Biru””

Catatan Harian #PhDJomblo (4): Apa Iya Post-Strukturalisme mengantarkan kita pada “Masyarakat Pasca-Kebenaran”?

Salah satu pertanyaan yang merebak di era ‘post-truth’ ini adalah: apakah kita perlu menyalahkan ‘post-modernisme’ (dan dalam konteks yang sedikit lebih luas) ‘post-strukturalisme’ sebagai tersangka munculnya era ini? Baru-baru ini, dalam satu artikelnya di Jurnal Critical Studies on Security, Rhys Crilley dan Precious Chatterje-Doody dua ilmuwan dari Manchester, memberikan jawaban: tidak juga. Masalahnya adalah kita sering keliru mengidentifikasi post-strukturalisme dan post-modernisme sebagai kerangka berpikir ‘anti-kebenaran’ atau mengabsurdkan apa yang sering dianggap sebagai ‘common sense’ dalam studi sosial politik. Sebagaimana diutarakan oleh Rhys dan Precious, post-strukturalisme justru relevan untuk mengkritik rezim-rezim post-truth karena mereka ingin menciptakan rezim kebenaran baru yang, sayangnya, anti-sains dan anti-‘keberagaman’.

Lha, kok bisa? Ya bisa saja. Ini karena sebetulnya argumen-argumen “post-truth” (semacam, misalnya, “Bumi Datar” atau penolakan tentang Global Warming) juga bukan argumen post-strukturalisme. Justru, mereka mengingatkan bahwa hal-hal semacam itu terjadi dan adalah tugas dari sains dan ilmu pengetahuan untuk senantiasa berpikir kritis terhadap hal-hal semacam itu. Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (4): Apa Iya Post-Strukturalisme mengantarkan kita pada “Masyarakat Pasca-Kebenaran”?”

Catatan Harian #PhDJomblo (3): Hiking di Brisbane dan Sheffield

Syahdan, Queensland katanya terkenal dengan pantai-pantainya yang (katanya) menawan. Tapi entah mengapa, saya tetap suka hiking. Ini hobi yang mulai saya gemari ketika di Sheffield. Maklum, Sheffield bisa dibilang kota yang tidak terlalu besar (besar sih, tapi City Centre-nya kecil). Tidak sebesar City Centre Brisbane yang ramai dan banyak orang lalu-lalang. Tapi Sheffield punya sisi indah yang lain – Peak District. Nah, ini yang bikin saya, entah kenapa, jatuh hati dan susah move on dari kota ini.

Nah, apakah di Brisbane ada tempat hiking semacam Peak District bagi orang yang ndak begitu suka mendaki gunung yang terlalu tinggi kayak saya (halah) tapi ingin menikmati indahnya suasana alam? Ada beberapa spot yang ketika baru saja datang langsung saya cari. Memang tidak seindah Edensor dan Castleton di Peak District, yang bisa dinikmati bersama Yorkshire Tea sebelum naik ke Mam Tor atau Baslow Edge yang tinggi. Tapi setidaknya bisa mengobati kerinduan dengan alam (catatan: saya malah ndak banyak jalan-jalan ketika di Indonesia. hahaha).  Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (3): Hiking di Brisbane dan Sheffield”

Catatan Harian #PhDJomblo (2): Banyak Jalan Menuju St Lucia

Berhubung saat ini saya sedang selo (baru memulai studi secara ‘resmi’ pekan depan dan masih dalam tahap settlement), mungkin ada baiknya saya menulis-nulis sederhana saja. Sedikit cerita tentang bagaimana saya tiba-tiba mendapati diri saya kembali pergi ke negeri seberang untuk meneruskan ‘pertapaan’ dengan kedok ‘PhD’ – walau masih ‘jomblo #eh.

Saya agak kaget dan tidak menyangka-nyangka ketika bulan Oktober lalu saya menerima satu email pendek dari University of Queensland: “Your Application has been successful”. E-mail itu masuk ketika saya masih berada di Lund, Swedia, uintuk satu Konferensi dan saya membuka e-mail itu bahkan sebelum waktu Subuh -saya masih agak jetlag. Saya setengah tidak percaya. Bukan cuma karena e-mail itu masuk secara mendadak, tapi juga karena saya sudah agak lupa dengan aplikasi PhD saya ke UQ -saya mendaftar di bulan April tanpa kejelasan dari Graduate School.

Dan saya lebih tidak percaya lagi ketika membaca isinya. Normalnya Letter of Offer hanya ada satu, tapi saya malah dapat tiga: satu Offer untuk studi, dan dua offer lain yang menerangkan kalau saya dapat beasiswa dari University of Queensland. Artinya sederhana: saya harus cepat-cepat pindah ke UQ awal tahun ini. Dan masa itu adalah masa peak aktivitas kantor: ada dua laporan riset yang harus saya selesaikan, presentasi-presentasi, hingga tugas-tugas administratif akhir tahun. Alhamdulillah, semua hampir rampung di akhir tahun sebelum saya berangkat ke Brisbane.

Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (2): Banyak Jalan Menuju St Lucia”