Haul Guru Sekumpul: Sebuah Catatan Personal

Beberapa hari ini, kawasan Sekumpul Martapura dipadati oleh para peziarah dan jamaah yang akan mengikuti haul Guru Sekumpul, ‘Alimul ‘Allamah KH Zaini Abdul Ghani, yang juga dikenal sebagai Guru Sekumpul atau Guru Ijai (sebagai kami memanggil beliau). Beliau memang ulama kharismatik. Jamaah pengajian beliau dulu selalu dipadati jamaah, dan banyak murid beliau yang kemudian juga menjadi ulama di Kalimantan Selatan. Konon, di tahun 1990an, beliau pernah menjadi Mustasyar PBNU di masa kepemimpinan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga menghormati beliau.

Saya tentu tidak ikut melaksanakan haul. Alasan pertama adalah jauh – lha gimana, saya berada di Brisbane sini, terpaut Laut Arafuru dan Samudera Pasifik dari Sekumpul Martapura. Alasan kedua adalah teologis – sebagai warga Muhammadiyah, tentu saya tidak biasa melakukan haul. Well, ini cukup klasik dan sebaiknya saya tidak usah ceritakan disini (karena berdasarkan pengalaman, perdebatannya bisa tidak berakhir sampai satu hari satu malam, hahaha). Walaupun orang-orang Muhammadiyah (“Kaum Muda”, kalau dalam sejarah Alabio) tidak mahaul, tetap saja jamaah berdatangan ke Sekumpul untuk haul dan ziarah. 

Akan tetapi, walaupun secara teologis saya tidak melakukan haul dan mungkin dalam beberapa hal juga tidak satu pemahaman dengan pemikiran keagamaan Guru Sekumpul (ini cerita panjang, soal friksi “Kaum Tuha” dan “Kaum Muda”), saya tetap menghormati figur beliau. Satu alasan sederhana, kami masih “terhubung” secara biologis meski agak jauh, yakni sepupu tiga kali dengan ibu saya. Kalau tidak salah, silsilah kami bertemu di H. Muhammad Seman, yang melahirkan dua bersaudara H. Abdul Manaf (kakek dari Guru Sekumpul) dan H. Mahrus (kakek dari ibu saya) yang kemudian menjadi Qadhi di kampung Keraton, Martapura. Silsilah ini masih tersimpan di Martapura, di keluarga kakek saya yang memang sangat ‘Nahdhiyyin’ (nenek saya, karena orang Alabio, sangat kuat Muhammadiyah-nya). Dari sana kami kemudian secara silsilah masih bersambung dengan Syekh Arsyad Al-Banjari, meskipun saya tentu tidak berhak mengklaim nasab ini, karena yang keturunan Datu Kalampayan adalah ibu saya, dan bukan saya sendiri.

Memori masa kecil saya pun juga masih sedikit merekam interaksi dengan Almarhum Guru Sekumpul. Saya sendiri agak lipa-lupa ingat, karena saya masih  berada di usia 4 atau 5 tahun waktu itu. Tentu ini karena almarhum kakek saya. Syahdan, dulu Guru Sekumpul pernah ke rumah (entah rumah saya di Jl A Yani atau rumah kakek saya di Keraton) untuk menjenguk almarhum kakek, yang merupakan putra bungsu dari Qadhi H. Mahrus, Qadhi Kampung Keraton Martapura. Remang-remang memori saya merekam, kalau dulu pernah sekali ‘dipangku’ oleh beliau. Syahdan, ketika kakek meninggal di sebuah Jumat bulan Ramadhan 18 tahun silam, Guru Sekumpul yang waktu itu sedang Umrah di Mekkah sempat mengirimkan pesan ke keluarga, mengirimkan duka cita kepada yang ditinggalkan. Setelah itu beliau meninggal, dikenang sebagai seorang ulama kharismatik penerus Syekh Arsyad Al-Banjari, dan diperingati haulnya setiap tahun. Bahkan konon banyak yang bilang bahwa sampai saat ini, susah mencari ulama yang sepadan dengan Guru Sekumpul.

Saya pun kemudian beranjak dewasa, belajar agama meskipun dengan cara yang sangat berbeda (baik konten dan cara) dengan garis pemikiran keagamaan yang berkembang di Martapura. Saya teguh memegang cara berpikir ‘modernis’ dan aktif di Muhammadiyah. Pun keluarga begitu. Dalam beberapa hal tertentu ini tentu membuat saya tidak begitu ‘klop’ dengan beberapa keluarga di Martapura, dan ini biasa saja (catatan: sampai akhir hayatnya, almarhum kakek saya tetap memulai puasa dan berhari raya dengan mengikuti NU/pemerintah, sementara nenek dan keluarga saya ikut Muhammadiyah).

Tapi silaturrahim tetap berjalan terus. Setiap lebaran saya tetap mengunjungi rumah nenek saya di Keraton. Terakhir, sebelum berangkat Master ke Sheffield, saya berkesempatan ziarah ke Kalampayan, menapaktilasi jalan dan pengalaman hidup beliau, bukan hanya sebagai “ulama besar”, tetapi juga sebagai generasi pertama mahasiswa yang diberi beasiswa untuk belajar di luar negeri, di bawah dukungan dana Kesultanan Banjar pada masa itu. Saya mencoba mengambil ‘semangat’-nya untuk bertahan menyelesaikan Master saya di Inggris. yang saya tempuh atas dukungan pemerintah Indonesia.

Ketika berkesempatan menunaikan ibadah haji dua tahun silam, saya mencoba mencari tempat Syekh Arsyad dulu belajar. Tentu saja tidak mendapatkannya di tengah perubahan pesat kota Mekkah yang semakin modern.

Pada akhirnya, meskipun saya tidak memperingati ‘haul’ baik di Kalampayan ataupun Sekumpul, ada satu tradisi yang saya yakini menghubungkan saya dengan Guru Sekumpul dan Datu Kalampayan: tradisi untuk menuntut ilmu. Ini yang saya kira tidak lekamg dimakan zaman.  Meskipun jelas ilmu yang kami pelajari berbeda, dan saya juga tidak memiliki kafa’ah yang cukup dalam ilmu agama dan akhirnya memilih mendalami Ilmu Politik dan Hubungan Internasional sebagai gantinya, saya yakin Datu Kalampayan dan Guru Sekumpul mewariskan semangat untuk menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada masyarakat luas. Bukan hanya pada masyarakat Banjar, tapi juga siapapun yang ingin belajar. Semangat inilah yang saya kira tidak hanya terbatas pada ilmu agama (meskipun tentu saja ini wajib hukumnya bagi setiap Muslim), tapi juga pada ilmu-ilmu yang lebih umum.

Mungkin catatan ini sifatnya personal – mungkin ada yang setuju dan tidak. Tapi pada akhirnya, sebagai seorang bagian dari “Muslim Modernis”, peringatan haul Guru Sekumpul ini memberikan satu refleksi: kira-kira, ilmu semacam apa yang akan saya berikan pada umat dan masyarakat yang lebih luas? Dan mungkinkah muncul generasi baru sarjana dan ulama Banjar yang tidak kalah kualitasnya dari Guru Sekumpul dan Datu Kalampayan?

Nashrun Minallah wa Fathun Qariib. 

Jul27_02.JPG
Koleksi lama: foto pertemuan ulama dan pejabat di Martapura zaman Kolonial Belanda. Ada foto ‘Datu’ Qadhi H. Mahrus (berdiri, berjubah dan bersorban di sana) 

Brisbane, 24.3.18

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s