Catatan Harian #PhDJomblo (1): Tesis-Tesis yang Menggetarkan Jiwa

Salah satu hobi iseng saya adalah mengubek-ubek Tesis/Disertasi Doktoral orang-orang (catatan: Inggris dan sebagian Australia mengenal “Tesis” untuk Hasil Riset PhD, sementara Amerika Serikat, Singapura, dan sebagian Eropa menggunakan istilah “Disertasi”). Bagi banyak orang (seperti Alex Wendt, Ken Waltz, atau Bob Keohane di studi Hubungan Internasional, misalnya), Disertasi cuma awal dari perjalanan intelektual mereka yang panjang. Mungkin karena mereka memulai proyek Disertasi mereka di usia muda. Ini tidak mengherankan, teman-teman PhD disini juga mayoritas seusia dengan saya.

Nah, hobi iseng ini berlanjut (dan malah dapat momentumnya) ketika studi PhD disini. Kemarin saja, misalnya, saya menghabiskan sore hari dengan  mengubek-ubek Disertasi Doktoral orang-orang (termasuk Bapak supervisor) yang sudah ditulis bertahun2 silam. Beruntung, perpustakan kampus punya akses ke ProQuest, yang artinya saya juga bisa mengakses Disertasi-Disertasi di hampir seluruh dunia. Saya kesulitan mengakses disertasi yang baru selesai (biasanya karena alasan “embargo”, hasil deal antara penulis dengan kampus), tapi Disertasi yang sudah puluhan tahun bisa terakses melalui bantuan ProQuest. Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (1): Tesis-Tesis yang Menggetarkan Jiwa”

Catatan Harian #PhDJomblo: “Pengantar”

Hi, all!

Setelah lama vakuum karena kesibukan riset dan sekolah (sekarang juga masih sih), saya memutuskan untuk menghidupkan kembali blog ini. Bukan apa-apa. PhD itu berat (“jadi aku saja yang begitu”, kata Dilan), dan untuk mengurangi kegalauan, saya biasanya menulis refleksi tiap malam. Biasanya dibarengi curhat – inilah mengapa saya menamai catatan-catan saya #PhDJomblo. Jadi, daripada terpencar-pencar di facebook, saya baiknya mengumpulkan catatan-catatan kegalauan saya  di blog ini, biar rapi dan ada manfaatnya bagi khalayak semua.

Tak terasa, ini sudah masuk pada bulan ketiga PhD saya di kota Banjarmasin Brisbane yang panas, penuh sungai berkelok, tapi berhati nyaman ini. Alhamdulillah, walau berat (jadi, sekali lagi, biar Dilan saja), tapi sejauh ini bisa dinikmati. Walau dilanda kerinduan (entah nanti, kalau sudah “ketemu”, halah). Periode sebulan pertama yang berat. Bukan karena apa-apa: beasiswa belum cair! Alhamdulillah juga, bisa hidup walau masak seadanya tiap hari.

Nah, saya sendiri punya 2 disclaimer soal catatan-catatan #PhDJomblo ini: Pertama, mungkin rodho serius, ya maklum karena saya mahasiswa PhD yang tiap minggu harus nulis dan baca, keluar masuk perpustakaan, atau ikut Seminar tiap minggu. Jadi mohon maaf kok kadang rodho membingungkan. Plus saya mahasiswa HI, jadi ya isi blog ini sedikit banyak bersinggungan dengan studi HI, yang kini sedang saya dalami.

Kedua, mungkin juga banyak curhat-curhat colongan disini. Harap maklum, yang nulis sering galauan. Ini esensi kedua dari blog ini, hahaha. Jadi, daripada saya nulis di Indoprogress dengan nada curhat, atau tiba-tiba artikel di GeoTimes yang sangat serius soal Kebijakan Riset ada curhatannya, harap maklum ya. Inilah takdir saya sebagai #PhDJomblo.

Saat ini, saya sedang dalam proses apa yang sering dibilang supervisor saya sebagai blue sky, yang sebenarnya isinya adalah ngopi-ngopi sambil baca-baca, lalu nulis sedikit tiap minggu. Mungkin baru bulan ke-6 atau ke-7 saya baru akan menulis proposal agak serius. Jadi, sebagian orang mungkin akan bilang ‘kurang kerjaan’, tapi bagi saya ya sama saja.

Jadi, silakan dinikmati. Saya biasanya menulis iseng kalau sudah pulang ke rumah, jam 10-11 malam. Kadang juga setelah bangun pagi, sebelum ke kampus, sambil menyeruput kopi hazelnut produksi Coles. Australia memang surganya pecinta kopi, hehe. Semoga menginspirasi, atau setidaknya mengambil hikmah, bahwa kejombloan jangan jadi tekanan, tapi jadi inspirasi untuk membangun Cinta, Cita, dan Karya.

Salam Kegalauan!

IMG_3340.JPG
Pemandangan dari rumah tercinta, Bellevue Terrace 4067