Catatan Harian #PhDJomblo (2): Banyak Jalan Menuju St Lucia

Berhubung saat ini saya sedang selo (baru memulai studi secara ‘resmi’ pekan depan dan masih dalam tahap settlement), mungkin ada baiknya saya menulis-nulis sederhana saja. Sedikit cerita tentang bagaimana saya tiba-tiba mendapati diri saya kembali pergi ke negeri seberang untuk meneruskan ‘pertapaan’ dengan kedok ‘PhD’ – walau masih ‘jomblo #eh.

Saya agak kaget dan tidak menyangka-nyangka ketika bulan Oktober lalu saya menerima satu email pendek dari University of Queensland: “Your Application has been successful”. E-mail itu masuk ketika saya masih berada di Lund, Swedia, uintuk satu Konferensi dan saya membuka e-mail itu bahkan sebelum waktu Subuh -saya masih agak jetlag. Saya setengah tidak percaya. Bukan cuma karena e-mail itu masuk secara mendadak, tapi juga karena saya sudah agak lupa dengan aplikasi PhD saya ke UQ -saya mendaftar di bulan April tanpa kejelasan dari Graduate School.

Dan saya lebih tidak percaya lagi ketika membaca isinya. Normalnya Letter of Offer hanya ada satu, tapi saya malah dapat tiga: satu Offer untuk studi, dan dua offer lain yang menerangkan kalau saya dapat beasiswa dari University of Queensland. Artinya sederhana: saya harus cepat-cepat pindah ke UQ awal tahun ini. Dan masa itu adalah masa peak aktivitas kantor: ada dua laporan riset yang harus saya selesaikan, presentasi-presentasi, hingga tugas-tugas administratif akhir tahun. Alhamdulillah, semua hampir rampung di akhir tahun sebelum saya berangkat ke Brisbane.

Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (2): Banyak Jalan Menuju St Lucia”

Catatan Harian #PhDJomblo (1): Tesis-Tesis yang Menggetarkan Jiwa

Salah satu hobi iseng saya adalah mengubek-ubek Tesis/Disertasi Doktoral orang-orang (catatan: Inggris dan sebagian Australia mengenal “Tesis” untuk Hasil Riset PhD, sementara Amerika Serikat, Singapura, dan sebagian Eropa menggunakan istilah “Disertasi”). Bagi banyak orang (seperti Alex Wendt, Ken Waltz, atau Bob Keohane di studi Hubungan Internasional, misalnya), Disertasi cuma awal dari perjalanan intelektual mereka yang panjang. Mungkin karena mereka memulai proyek Disertasi mereka di usia muda. Ini tidak mengherankan, teman-teman PhD disini juga mayoritas seusia dengan saya.

Nah, hobi iseng ini berlanjut (dan malah dapat momentumnya) ketika studi PhD disini. Kemarin saja, misalnya, saya menghabiskan sore hari dengan  mengubek-ubek Disertasi Doktoral orang-orang (termasuk Bapak supervisor) yang sudah ditulis bertahun2 silam. Beruntung, perpustakan kampus punya akses ke ProQuest, yang artinya saya juga bisa mengakses Disertasi-Disertasi di hampir seluruh dunia. Saya kesulitan mengakses disertasi yang baru selesai (biasanya karena alasan “embargo”, hasil deal antara penulis dengan kampus), tapi Disertasi yang sudah puluhan tahun bisa terakses melalui bantuan ProQuest. Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (1): Tesis-Tesis yang Menggetarkan Jiwa”

Catatan Harian #PhDJomblo: “Pengantar”

Hi, all!

Setelah lama vakuum karena kesibukan riset dan sekolah (sekarang juga masih sih), saya memutuskan untuk menghidupkan kembali blog ini. Bukan apa-apa. PhD itu berat (“jadi aku saja yang begitu”, kata Dilan), dan untuk mengurangi kegalauan, saya biasanya menulis refleksi tiap malam. Biasanya dibarengi curhat – inilah mengapa saya menamai catatan-catan saya #PhDJomblo. Jadi, daripada terpencar-pencar di facebook, saya baiknya mengumpulkan catatan-catatan kegalauan saya  di blog ini, biar rapi dan ada manfaatnya bagi khalayak semua.

Tak terasa, ini sudah masuk pada bulan ketiga PhD saya di kota Banjarmasin Brisbane yang panas, penuh sungai berkelok, tapi berhati nyaman ini. Alhamdulillah, walau berat (jadi, sekali lagi, biar Dilan saja), tapi sejauh ini bisa dinikmati. Walau dilanda kerinduan (entah nanti, kalau sudah “ketemu”, halah). Periode sebulan pertama yang berat. Bukan karena apa-apa: beasiswa belum cair! Alhamdulillah juga, bisa hidup walau masak seadanya tiap hari.

Nah, saya sendiri punya 2 disclaimer soal catatan-catatan #PhDJomblo ini: Pertama, mungkin rodho serius, ya maklum karena saya mahasiswa PhD yang tiap minggu harus nulis dan baca, keluar masuk perpustakaan, atau ikut Seminar tiap minggu. Jadi mohon maaf kok kadang rodho membingungkan. Plus saya mahasiswa HI, jadi ya isi blog ini sedikit banyak bersinggungan dengan studi HI, yang kini sedang saya dalami.

Kedua, mungkin juga banyak curhat-curhat colongan disini. Harap maklum, yang nulis sering galauan. Ini esensi kedua dari blog ini, hahaha. Jadi, daripada saya nulis di Indoprogress dengan nada curhat, atau tiba-tiba artikel di GeoTimes yang sangat serius soal Kebijakan Riset ada curhatannya, harap maklum ya. Inilah takdir saya sebagai #PhDJomblo.

Saat ini, saya sedang dalam proses apa yang sering dibilang supervisor saya sebagai blue sky, yang sebenarnya isinya adalah ngopi-ngopi sambil baca-baca, lalu nulis sedikit tiap minggu. Mungkin baru bulan ke-6 atau ke-7 saya baru akan menulis proposal agak serius. Jadi, sebagian orang mungkin akan bilang ‘kurang kerjaan’, tapi bagi saya ya sama saja.

Jadi, silakan dinikmati. Saya biasanya menulis iseng kalau sudah pulang ke rumah, jam 10-11 malam. Kadang juga setelah bangun pagi, sebelum ke kampus, sambil menyeruput kopi hazelnut produksi Coles. Australia memang surganya pecinta kopi, hehe. Semoga menginspirasi, atau setidaknya mengambil hikmah, bahwa kejombloan jangan jadi tekanan, tapi jadi inspirasi untuk membangun Cinta, Cita, dan Karya.

Salam Kegalauan!

IMG_3340.JPG
Pemandangan dari rumah tercinta, Bellevue Terrace 4067

Evolusi dan Transformasi Organisasi Mahasiswa UGM (1)

Image

Tak terasa, 22 tahun sudah Keluarga Mahasiswa UGM mewarnai kehidupan mahasiswa UGM. Sistem yang digadang-gadangkan sebagai ‘student government’ ini -dengan segenap kekurangan dan keterbatasannya- menjadi sebuah ikhtiar yang dilakukan oleh mahasiswa UGM untuk mendobrak kejumudan yang dihasilkan oleh rezim pendidikan saat itu, Beragam momentum gerakan, konflik, krisis, dan transformasi dilalui. Sampai tulisan ini dirilis, 22 tahun sudah usia lembaga mahasiswa intrakampus di UGM ini dilalui. Continue reading “Evolusi dan Transformasi Organisasi Mahasiswa UGM (1)”

300: Bicara Teori HI dalam Film

themistoclesKETIKA film 300: The Rise of an Empire baru dirilis ke pasaran bioskop Indonesia, saya menduga film ini akan punya tipe tak jauh beda dengan pendahulunya, 300. Saya tidak salah. Ketika kemarin menonton, film ini langsung membuat saya akrab dengan logika yang dibangun dalam alur cerita.

Dua tahun lalu, ketika menjadi tutor di mata kuliah Teori Politik Internasional, saya iseng-iseng memutarkan film 300, dipadu dengan Troy, sebagai media untuk mengenalkan logika skeptisisme moral (yang sentral dalam realisme) kepada mahasiswa. Film 300 memang sangat khas realis. Dari awal film, alur cerita sudah menampilkan gaya militaris yang memang tidak percaya dengan diplomasi, persatuan global, atau basa-basi politik. Yang ada hanyalah kekuatan. Continue reading “300: Bicara Teori HI dalam Film”

Intelektual dan Pengetahuannya

487857_495724780473086_1247586938_nHari ini, civitas Gadjah Mada ketiban sesuatu yang besar: ‘skandal’ plagiarisme yang dituduhkan pada AA, seorang dosen senior yang juga malang melintang di dunia birokrasi, hingga berujung pada pengunduran dirinya. Media sosial dan media elektronik heboh. Mengingat, skandal itu terjadi di salah satu media terkemuka di Indonesia.

Saya tidak akan cerita panjang lebar soal itu. Mengingat, saya juga bukan siapa-siapa, hanya seorang sarjana yang baru lulus dari kampus Gadjah Mada. Tapi, saya ingin mencoba sedikit mengarifi -di sela-sela istirahat rumah akibat kena ‘kutukan’ abu Gunung Kelud kemarin. Continue reading “Intelektual dan Pengetahuannya”

Gerakan Islam dan Gerakan Kiri

ImageDalam diskusi tentang media kiri yang digelar kawan-kawan Gerakan Literasi Indonesia tadi malam, ada yang menarik, bahwa dalam sejarahnya, perkembangan gerakan kiri di Indonesia justru bermula dari organisasi pergerakan Islam yang pertama: Sarekat Islam.

Ini bukan dongeng. Sejarah mencatat bahwa apa yang disebut dengan Partai Komunis Indonesia justru merupakan sebuah faksi “Merah” dari Sarekat Islam Cabang Semarang. Para pegiatnya adalah aktivis buruh kereta api yang dipimpin anak muda bernama Semaoen.

Memang ada orang-orang Belanda seperti Sneevliet, Bergson, dan lain-lain yang membawa Marxisme dari Hindia-Belanda, tetapi ranah gerak dan pengorganisasian aktivis Komunis Indonesia justru diartikulasikan melalui Sarekat Islam. Ini bukanlah infiltrasi atau entrism, sebab beberapa aktivis Komunis seperti Semaun justru sudah bergabung dengan SI sejak 1914 (ketika ia berumur 15 tahun), sebelum kenal Sneevliet di Semarang. Continue reading “Gerakan Islam dan Gerakan Kiri”

Tamjid dan Hidayat

Ini semacam peringatan bagi urang banjar yang mau jadi pemimpin tahun 2014 -entah Hubnur, Bupati, Caleg, Pambakal, atau Ketua RT sekalipun.

Dalam sejarahnya, Kesultanan Banjar punya dua raja terakhir: Tamjidillah dan Hidayatullah. Keduanya adalah putera dari Sultan Adam, raja Banjar yang terkenal dengan Undang-Undangnya. Penelitian Ita Syamtasiah Ahyat mencatat: Tamjid sebetulnya adalah putera selir. Ia bukanlah orang yang ditakdirkan jadi Raja Banjar. Pertama, karena ia bukanlah putera permaisuri (yang lazim jadi raja). Kedua, karena wasiat dari Sultan Adam sama sekali tidak menunjuk dirinya jadi raja; yang ditunjuk justru adalah cucunya, putera dari Sultan Muda Abdurrahman, yaitu Pangeran Hidayatullah.

Singkat cerita, Sultan Adam meninggal dan, sebagaimana beberapa kali terjadi, menyisakan perdebatan mengenai siapa yang seharusnya menjadi raja. Continue reading “Tamjid dan Hidayat”

Tahrir

ImageAda sedikit cerita menarik dari jurnalis Mariz Tadros, mantan jurnalis Ahram, pada salah satu buku tebalnya tentang Ikhwanul Muslimin. Ini tentang anak-anak muda Ikhwan.

Awal Januari 2011, Mesir sedang gelisah. Satu bulan sebelumnya, rezim politik tumbang di Tunisia. Tentu saja gelora untuk melanjutkan ‘revolusi’ sedang berdebar-debar di dalam dada anak-anak muda Mesir. Aktivis politik, rata-rata dari kalangan anak muda sedang giat-giatnya menggelar rapat dan turun ke jalan, berupaya memindahkan kejadian ‘tetangga’ ke dalam rumah sendiri.

Suasana ini mungkin mirip dengan suasana menjelang proklamasi kemerdekaan Indonesia, ketika anak-anak muda yang tak sabaran sedang harap-harap cemas ketika mendengar Jepang kalah perang. Continue reading “Tahrir”

Teori Politik Internasional (3): Negara, Otonomi, dan Moralitas

ImageAnarchy is what the state makes of it”, tulis ilmuwan Konstruktivis Alexander Wendt dalam artikelnya yang terkenal di tahun 1992. Politik internasional, selama bertahun-tahun, dikaji melalui satu sudut pandang yang khas: politik antarnegara. Hal ini tentu tidak secara kebetulan terjadi Sejak dirumuskan di Westphalia pada tahun 1648 dan studi HI mulai diperdebatkan di awal abad ke-20, ‘negara’ menjadi bahan perbincangan yang dominan.

Teori Hubungan Internasional modern memang ditandai oleh satu variabel khas: “negara” (state). Antonio Negri dan Michael Hardt (2000) mencatat bahwa modernisasi yang dibawa oleh Eropa bergantung, salah satunya, pada konsepsi tentang ‘negara-bangsa’.  Dalam struktur keilmuan HI yang sangat positivistik, mengutip Joseph Femia (2008), konsepsi negara diterima secara a priori. Sovereign states are, and will remain, the primary actors in international affairs”, tulisnya. Negara sudah bagaikan alpha dan omega dalam studi Hubungan Internasional modern.

Sehingga, teorisasi mengenai politik internasional pun takkan lepas dari perbincangan mengenai negara -sesuatu yang akan coba diurai dalam tulisan ini. Continue reading “Teori Politik Internasional (3): Negara, Otonomi, dan Moralitas”