Teori Politik Internasional (2): Empat Penunggang Kuda

ImageAda baiknya memulai kajian tentang teorisasi politik internasional melalui sebuah metafora: penggambaran atau imaji tentang kondisi hari ini. Metafora tidak bertujuan untuk menambah kompleksitas dalam studi HI, melainkan hanya membantu dalam merumuskan ‘apa’ dan ‘bagaimana’ logika-logika dasar dalam politik internasional beroperasi.

Guna memahami politik internasional secara teoretik, kita memerlukan imaji, ilustrasi, atau potret mengenai kondisi objektif politik internasional. Ilustrasi tersebut dapat membawa kita pada sebuah refleksi teoretis mengenai bagaimana politik internasional digambarkan, sehingga memudahkan untuk melakukan penjabaran secara lebih teoretis dan filosofis. Mungkin, potret “empat penunggang kuda” yang diambil dari bible bisa membantu memetakan kondisi politik internasional hari ini. Continue reading “Teori Politik Internasional (2): Empat Penunggang Kuda”

Teori Politik Internasional (1): Dua Tesis Skeptisisme Moral

Mari kita mulai diskusi mengenai skeptisisme moral ini dengan membahas sebuah film tentang Yunani kuno: 300.

ImageFilm 300 berkisah tentang Leonidas, seorang raja Sparta yang menghadang puluhan ribu prajurit Persia hanya dengan 300 prajurit. Kisah ini bermula dari kedatangan rombongan “duta besar” Persia yang menawarkan penaklukkan. Leonidas yang menyambut duta besar itu menjawab dengan penolakan yang keras: sang duta besar dibunuh dan ia segera mempersiapkan perlawanan dengan memilih 300 prajurit. Ke-300 prajurit itu menghadang aneksasi Persia tersebut di “Gerbang Panas” Yunani atau Thermopylae.

Singkat kata, terjadilah pertempuran yang sengit. Leonidas bersama 300 prajuritnya melawan dengan sengit. Di Sparta, terjadi perdebatan din kalangan Senat apakah akan mengirim armada tambahan atau tidak. Perdebatan berakhir nihil. Leonidas akhirnya terkepung oleh pasukan Persia, dan terbunuh dalam pertempuran pamungkas setelah melukai Xerxes, raja Persia yang hadir dalam pertempuran. Continue reading “Teori Politik Internasional (1): Dua Tesis Skeptisisme Moral”

Penulis dan Tulisannya

ImageSaya sedikit tersenyum ketika membaca komentar-komentar di tulisan saya yang terbaru. Tulisan itu esei seperti biasa, tentang anak muda Ikhwan. Tapi beberapa kawan berkomentar, “ini jadi semacam curhat dari penulisnya”.

Komentar-komentar semacam itu membuat saya tersenyum dan tergerak menulis catatan singkat ini. Bagi saya, tulisan bukanlah sesuatu yang keluar dari alam pikiran lalu menguap begitu saja di layar komputer. Atau, cuma sekadar pelampiasan hasrat. Bagi saya, menulis itu seperti berbicara dengan orang lain. Dari tulisan-lah orang akan mengenal “siapa saya” dan “seperti apa saya hidup”.

Maka dari itu, jika ada yang menyebut tulisan-tulisan saya semacam curhat, di sisi ini bisa diterima. Menulis adalah identitas. Aku adalah apa yang aku tulis. Dengan demikian, seorang penulis akan terikat dengan tulisannya secara emosional, karena apa yang ditulis oleh seorang penulis, pada hakikatnya adalah ‘penampakan’ dari si penulis itu juga. Continue reading “Penulis dan Tulisannya”

Datu Kalampayan dan Ilmu Sosial Banjar

ImageSyekh Arsyad Al-Banjari (Datu Kalampayan) boleh meninggal dunia tiga abad silam. Akan tetapi, warisan yang beliau tinggalkan masih tetap tersimpan hingga kini.

Kapasitas Syekh Arsyad sebagai seorang ulama besar di tanah Banjar sudah tak bisa dipungkiri lagi. Setiap tahun, haul beliau selalu ramai diperingati oleh ribuan umat Islam baik dari tanah Banjar hingga luar pulau.  Dengan berbagai kitab yang beliau tulis, serta tradisi pesantren yang beliau wariskan dari Dalam Pagar, tak ada yang meragukan ke-ulama-an beliau.

Namun, kapasitas beliau sebagai seorang ilmuwan –atau pemikir Muslim— tak banyak diungkap. Syekh Arsyad terkenal tidak hanya sebagai seorang mufti yang mengeluarkan fatwa bagi kerajaan. Beliau juga mewariskan banyak sekali kitab yang mencerminkan khazanah intelektual yang beliau kembangkan. Kitab-kitab beliau memang  lebih banyak berkutat pada cabang-cabang ilmu agama, seperti fiqh, tasawuf, atau ushuluddin. Continue reading “Datu Kalampayan dan Ilmu Sosial Banjar”

Barat dan Timur

ImagePada tahun 1978, terbit dua buah buku yang menandai kajian-kajian baru tentang Islam dan Timur Tengah. Buku pertama berjudul “Orientalism“, ditulis oleh Edward Said, seorang cendekiawan keturunan Palestina. Buku kedua berjudul “Islam and Secularism“, ditulis oleh Syed Mohammad Naquib Al-Attas, seorang cendekiawan muslim Indonesia yang bermukim di Malaysia.

Dua studi itu terlihat tak jauh berbeda dengan karya-karya yang lahir pada masa itu, namun menandai masa baru kajian baru tentang Islam dan Timur Tengah.

Buku pertama, Orientalism,membongkar tampilan-tampilan ‘Barat’  yang selama ini muncul dalam literatur-literatur studi Timur Tengah. Said membongkar bagaimana ‘Timur’ (maksudnya di sini adalah ‘Timur Tengah’) itu ditampilkan secara diskursif oleh Barat, untuk memperlihatkan superioritas Barat atas dunia Timur. Said menggabungkan konsep ‘formasi diskursif’ (relasi kekuasaan yang ditampilkan atas teks) yang dipinjamnya dari Foucault untuk melihat bagaimana diskursus-diskursus Barat menampilkan dunia Islam dalam studi-studi yang mereka lakukan, serta konsep ‘hegemoni’ yang berasal dari Gramsci untuk melihat hierarki-hierarki yang muncul dari diskursus tersebut. Kesimpulan Said, selama ini studi tentang Timur Tengah bukanlah studi yang ‘genuine’ menampilkan Timur apa adanya; ia ‘ditampilkan’ oleh ‘Barat’ melalui karya-karya mereka. Continue reading “Barat dan Timur”

Banjir Jakarta dan Krisis Modernitas

ImageAwal Tahun 2013 dan 2014, publik Indonesia terhenyak oleh sebuah berita: Jakarta terkena banjir. Ribuan warga ibukota mengungsi. Relawan berdatangan ke ibukota, bukan untuk ‘mencari hidup’ tetapi justru menyelamatkan warga yang kehilangan kehidupan di Jakarta akibat banjir.

Banjir Jakarta menghadirkan sebuah pertanyaan reflektif: mengapa Jakarta –yang selama ini menjadi simbol dari modernitas dan pucuk kekuasaan— tak bisa mengelak dari banjir dan harus sibuk menghadapinya? Continue reading “Banjir Jakarta dan Krisis Modernitas”

Paradoks Gerakan Mahasiswa

amuk maruMasih relevankah gerakan mahasiswa setelah reformasi menapaki usianya yang kelima belas? Memasuki tahun 2014, pertanyaan tersebut semakin penting untuk dijawab dan direfleksi bersama oleh para aktivis mahasiswa.

Selama lima tahun terakhir, ada satu catatan besar yang menurut saya perlu dievaluasi dari gerakan mahasiswa saat ini: tidak adanya wacana besar yang mengikat dan mempersatukan perjuangan gerakan mahasiswa. Continue reading “Paradoks Gerakan Mahasiswa”

Menegakkan Hak atas Tanah

ImageApa artinya menjadi petani di era gadget dan smartphone? Bagi para petani lahan pantai di Kulon Progo, ‘bertani’ artinya hidup atau mati. Bertanam cabai di pesisir pantai selatan laut Jawa, mereka harus bertarung menghadapi perusahaan tambang pasir besi yang juga berminat menggarap lahan pantai tersebut.

Tentu saja, upaya para petani untuk mempertahankan lahannya tersebut harus berhadapan dengan kuatnya modal para penambang yang difasilitasi oleh aparatur negara.

Kondisi yang sama akan kita temui di berbagai daerah di Indonesia. Dua tahun silam, Para petani di Mesuji, Lampung Utara, harus menghadapi hal serupa ketika berhadapan dengan korporasi dan negara. Para warga yang mendiami lahan sawit yang sudah dikapling oleh perusahaan, harus diusir ketika ternyata lahan tersebut akan ‘digarap’ oleh perusahaan. Continue reading “Menegakkan Hak atas Tanah”

Korupsi Para Begawan

ImageBerita Koran Tempo (3/6) yang melaporkan temuan Inspektorat atas dugaan Korupsi di Kementerian Pendidikan & Kebudayaan menarik untuk diulas. Berdasarkan laporan Inspektorat, ada intervensi pejabat Kementerian dalam beberapa proyek EO yang dimenangkan oleh perusahaan yang berafiliasi dengan yayasan milik Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Dari kasus-kasus korupsi lain, kasus ini terbilang “tidak biasa”. Kasus ini terjadi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang seyogianya menjadi ‘benteng moral’ perlawanan terhadap korupsi (kampus). Tidak hanya itu, kasus ini juga menyeret Wakil Menteri yang notabene adalah seorang cendekiawan kampus, terlepas dari jabatannya sekarang di pemerintahan. Continue reading “Korupsi Para Begawan”

Titik Balik Gerakan Islam

ImageSudah lebih tiga bulan berjalan sejak Muhammad Morsy dipaksa untuk turun jabatannya sebagai Presiden oleh Militer Mesir. Dalam kurun waktu tersebut, publik internasional telah menyaksikan pertumpahan darah dan krisis demokrasi yang berkepanjangan antara dua kubu besar: pendukung Morsy yang notabene berasal dari simpatisan gerakan Islam, serta pendukung kudeta militer.

Jatuhnya Morsy menandai sebuah ‘titik balik’ dalam pentas politik Timur Tengah. Menyusul Morsy, terjadi dorongan besar-besaran di beberapa negara Timur Tengah untuk melakukan perubahan politik. Hal ini setidaknya terjadi di Tunisia, di mana Partai An-Nahdha pimpinan Rachid Ghannouchi juga dituntut mundur oleh kelompok oposisi. Walaupun, kondisinya sedikit berbeda dari Mesir –kelompok Islamis mundur secara sukarela setelah berbulan-bulan didera oleh demonstrasi dari oposisi. Continue reading “Titik Balik Gerakan Islam”