Catatan Harian #PhDJomblo (5): Fase “Langit Biru”

Alhamdulillah, sudah tepat dua bulan saya berada di Univesity of Queensland. Sudah beberapa gajian saya lalui. Sudah beberapa kali juga bertemu supervisor, dan sudah beberapa Workshop juga dilalui bersama Direktur Pascasarjana dan mahasiswa-mahasiswa Doktoral yang lain. Kini tinggal menuntaskan satu milestone atau capaian yang mesti saya tuntaskan di sini: Confirmation Review.

Masa2 ini, menurut pak Supervisor, adalah masa-masa “blue sky”, dimana kita menyusun “awan” kita sendiri di langit yang biru. Oh ya, saya harus disclaimer dulu: sebelum sampai ke UQ (tepatnya, ketika mendaftar), kita diharuskan untuk menulis proposal penelitian, yang kita kirimkan ke Direktur Pascasarjana sebelum kemudian didistribusikan ke dosen-dosen yang tertarik dengan riset saya. Dua hari kemudian, supervisor saya membalas dan memberikan beberapa respons. Saya membalas satu bulan kemudian dan dia langsung setuju, saya akhirnya mendaftar secara formal dan lima bulan kemudian dinyatakan diterima, lengkap dengan beasiswanya.

Eh, tapi, tunggu dulu. Sudah diterima bukan berarti proposal kita bisa langsung terus. Awal Februari kemarin, saya bertemu dengan Bapak Supervisor dan beliau langsung bilang begini, “ya, saya tau kalau mahasiswa sedang menulis proposal, mereka biasanya menulis terburu-buru. Jadi, biasanya beberapa bulan pertama, mahasiswa akan berada dalam fase “langit biru”, entah mereka mungkin akan terus dengan proposa dan ide yang sudah mereka tawarkan, atau malah berubah. Jangan takut, keduanya oke kok”.  Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (5): Fase “Langit Biru””

Catatan Harian #PhDJomblo (1): Tesis-Tesis yang Menggetarkan Jiwa

Salah satu hobi iseng saya adalah mengubek-ubek Tesis/Disertasi Doktoral orang-orang (catatan: Inggris dan sebagian Australia mengenal “Tesis” untuk Hasil Riset PhD, sementara Amerika Serikat, Singapura, dan sebagian Eropa menggunakan istilah “Disertasi”). Bagi banyak orang (seperti Alex Wendt, Ken Waltz, atau Bob Keohane di studi Hubungan Internasional, misalnya), Disertasi cuma awal dari perjalanan intelektual mereka yang panjang. Mungkin karena mereka memulai proyek Disertasi mereka di usia muda. Ini tidak mengherankan, teman-teman PhD disini juga mayoritas seusia dengan saya.

Nah, hobi iseng ini berlanjut (dan malah dapat momentumnya) ketika studi PhD disini. Kemarin saja, misalnya, saya menghabiskan sore hari dengan  mengubek-ubek Disertasi Doktoral orang-orang (termasuk Bapak supervisor) yang sudah ditulis bertahun2 silam. Beruntung, perpustakan kampus punya akses ke ProQuest, yang artinya saya juga bisa mengakses Disertasi-Disertasi di hampir seluruh dunia. Saya kesulitan mengakses disertasi yang baru selesai (biasanya karena alasan “embargo”, hasil deal antara penulis dengan kampus), tapi Disertasi yang sudah puluhan tahun bisa terakses melalui bantuan ProQuest. Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (1): Tesis-Tesis yang Menggetarkan Jiwa”

300: Bicara Teori HI dalam Film

themistoclesKETIKA film 300: The Rise of an Empire baru dirilis ke pasaran bioskop Indonesia, saya menduga film ini akan punya tipe tak jauh beda dengan pendahulunya, 300. Saya tidak salah. Ketika kemarin menonton, film ini langsung membuat saya akrab dengan logika yang dibangun dalam alur cerita.

Dua tahun lalu, ketika menjadi tutor di mata kuliah Teori Politik Internasional, saya iseng-iseng memutarkan film 300, dipadu dengan Troy, sebagai media untuk mengenalkan logika skeptisisme moral (yang sentral dalam realisme) kepada mahasiswa. Film 300 memang sangat khas realis. Dari awal film, alur cerita sudah menampilkan gaya militaris yang memang tidak percaya dengan diplomasi, persatuan global, atau basa-basi politik. Yang ada hanyalah kekuatan. Continue reading “300: Bicara Teori HI dalam Film”

Teori Politik Internasional (3): Negara, Otonomi, dan Moralitas

ImageAnarchy is what the state makes of it”, tulis ilmuwan Konstruktivis Alexander Wendt dalam artikelnya yang terkenal di tahun 1992. Politik internasional, selama bertahun-tahun, dikaji melalui satu sudut pandang yang khas: politik antarnegara. Hal ini tentu tidak secara kebetulan terjadi Sejak dirumuskan di Westphalia pada tahun 1648 dan studi HI mulai diperdebatkan di awal abad ke-20, ‘negara’ menjadi bahan perbincangan yang dominan.

Teori Hubungan Internasional modern memang ditandai oleh satu variabel khas: “negara” (state). Antonio Negri dan Michael Hardt (2000) mencatat bahwa modernisasi yang dibawa oleh Eropa bergantung, salah satunya, pada konsepsi tentang ‘negara-bangsa’.  Dalam struktur keilmuan HI yang sangat positivistik, mengutip Joseph Femia (2008), konsepsi negara diterima secara a priori. Sovereign states are, and will remain, the primary actors in international affairs”, tulisnya. Negara sudah bagaikan alpha dan omega dalam studi Hubungan Internasional modern.

Sehingga, teorisasi mengenai politik internasional pun takkan lepas dari perbincangan mengenai negara -sesuatu yang akan coba diurai dalam tulisan ini. Continue reading “Teori Politik Internasional (3): Negara, Otonomi, dan Moralitas”

Teori Politik Internasional (2): Empat Penunggang Kuda

ImageAda baiknya memulai kajian tentang teorisasi politik internasional melalui sebuah metafora: penggambaran atau imaji tentang kondisi hari ini. Metafora tidak bertujuan untuk menambah kompleksitas dalam studi HI, melainkan hanya membantu dalam merumuskan ‘apa’ dan ‘bagaimana’ logika-logika dasar dalam politik internasional beroperasi.

Guna memahami politik internasional secara teoretik, kita memerlukan imaji, ilustrasi, atau potret mengenai kondisi objektif politik internasional. Ilustrasi tersebut dapat membawa kita pada sebuah refleksi teoretis mengenai bagaimana politik internasional digambarkan, sehingga memudahkan untuk melakukan penjabaran secara lebih teoretis dan filosofis. Mungkin, potret “empat penunggang kuda” yang diambil dari bible bisa membantu memetakan kondisi politik internasional hari ini. Continue reading “Teori Politik Internasional (2): Empat Penunggang Kuda”

Teori Politik Internasional (1): Dua Tesis Skeptisisme Moral

Mari kita mulai diskusi mengenai skeptisisme moral ini dengan membahas sebuah film tentang Yunani kuno: 300.

ImageFilm 300 berkisah tentang Leonidas, seorang raja Sparta yang menghadang puluhan ribu prajurit Persia hanya dengan 300 prajurit. Kisah ini bermula dari kedatangan rombongan “duta besar” Persia yang menawarkan penaklukkan. Leonidas yang menyambut duta besar itu menjawab dengan penolakan yang keras: sang duta besar dibunuh dan ia segera mempersiapkan perlawanan dengan memilih 300 prajurit. Ke-300 prajurit itu menghadang aneksasi Persia tersebut di “Gerbang Panas” Yunani atau Thermopylae.

Singkat kata, terjadilah pertempuran yang sengit. Leonidas bersama 300 prajuritnya melawan dengan sengit. Di Sparta, terjadi perdebatan din kalangan Senat apakah akan mengirim armada tambahan atau tidak. Perdebatan berakhir nihil. Leonidas akhirnya terkepung oleh pasukan Persia, dan terbunuh dalam pertempuran pamungkas setelah melukai Xerxes, raja Persia yang hadir dalam pertempuran. Continue reading “Teori Politik Internasional (1): Dua Tesis Skeptisisme Moral”

Tegal Kurusetra dan Perdagangan Bebas

(1)

bimaPertemuan WTO di Bali telah melahirkan Bali Package, menandai era baru Perdagangan Bebas yang semakin inklusif –dengan semakin teknisnya format liberalisasi yang ada. Paket Bali meliputi fasilitasi perdagangan dan kesepakatan-kesepakatan di bidang pertanian. Pemutusan hambatan tariff dan biaya perdagangan, seperti biasa, disepakati. Mereka juga, kabarnya, meng-address, masalah keamanan pangan dalam perdagangan bebas.

Persoalannya, apa yang ada di balik kesepakatan-kesepakatan itu? Bagaimana para penstudi Hubungan Internasional meng-address masalah ini? Mungkin ada baiknya kita ambil jalan memutar dengan menggunakan metafor lakon pewayangan yang mungkin sering kita lihat di pementasan kampung atau orang mantenan. Continue reading “Tegal Kurusetra dan Perdagangan Bebas”