Catatan Harian #PhDJomblo (2): Banyak Jalan Menuju St Lucia

Berhubung saat ini saya sedang selo (baru memulai studi secara ‘resmi’ pekan depan dan masih dalam tahap settlement), mungkin ada baiknya saya menulis-nulis sederhana saja. Sedikit cerita tentang bagaimana saya tiba-tiba mendapati diri saya kembali pergi ke negeri seberang untuk meneruskan ‘pertapaan’ dengan kedok ‘PhD’ – walau masih ‘jomblo #eh.

Saya agak kaget dan tidak menyangka-nyangka ketika bulan Oktober lalu saya menerima satu email pendek dari University of Queensland: “Your Application has been successful”. E-mail itu masuk ketika saya masih berada di Lund, Swedia, uintuk satu Konferensi dan saya membuka e-mail itu bahkan sebelum waktu Subuh -saya masih agak jetlag. Saya setengah tidak percaya. Bukan cuma karena e-mail itu masuk secara mendadak, tapi juga karena saya sudah agak lupa dengan aplikasi PhD saya ke UQ -saya mendaftar di bulan April tanpa kejelasan dari Graduate School.

Dan saya lebih tidak percaya lagi ketika membaca isinya. Normalnya Letter of Offer hanya ada satu, tapi saya malah dapat tiga: satu Offer untuk studi, dan dua offer lain yang menerangkan kalau saya dapat beasiswa dari University of Queensland. Artinya sederhana: saya harus cepat-cepat pindah ke UQ awal tahun ini. Dan masa itu adalah masa peak aktivitas kantor: ada dua laporan riset yang harus saya selesaikan, presentasi-presentasi, hingga tugas-tugas administratif akhir tahun. Alhamdulillah, semua hampir rampung di akhir tahun sebelum saya berangkat ke Brisbane.

Continue reading “Catatan Harian #PhDJomblo (2): Banyak Jalan Menuju St Lucia”

Paradoks Gerakan Mahasiswa

amuk maruMasih relevankah gerakan mahasiswa setelah reformasi menapaki usianya yang kelima belas? Memasuki tahun 2014, pertanyaan tersebut semakin penting untuk dijawab dan direfleksi bersama oleh para aktivis mahasiswa.

Selama lima tahun terakhir, ada satu catatan besar yang menurut saya perlu dievaluasi dari gerakan mahasiswa saat ini: tidak adanya wacana besar yang mengikat dan mempersatukan perjuangan gerakan mahasiswa. Continue reading “Paradoks Gerakan Mahasiswa”

Korupsi Para Begawan

ImageBerita Koran Tempo (3/6) yang melaporkan temuan Inspektorat atas dugaan Korupsi di Kementerian Pendidikan & Kebudayaan menarik untuk diulas. Berdasarkan laporan Inspektorat, ada intervensi pejabat Kementerian dalam beberapa proyek EO yang dimenangkan oleh perusahaan yang berafiliasi dengan yayasan milik Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan.

Dari kasus-kasus korupsi lain, kasus ini terbilang “tidak biasa”. Kasus ini terjadi di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang seyogianya menjadi ‘benteng moral’ perlawanan terhadap korupsi (kampus). Tidak hanya itu, kasus ini juga menyeret Wakil Menteri yang notabene adalah seorang cendekiawan kampus, terlepas dari jabatannya sekarang di pemerintahan. Continue reading “Korupsi Para Begawan”